MURIANETWORK.COM - Nilai tukar rupiah kembali melemah pada pembukaan perdagangan Kamis, 19 Februari 2026, terdorong oleh sentimen global yang bergejolak dan kekhawatiran domestik terhadap ketahanan fiskal. Mata uang nasional tercatat turun 0,27 persen ke level Rp16.929 per dolar AS, melanjutkan tren pelemahan dari sesi sebelumnya. Analis memprediksi pergerakan rupiah hari ini akan tetap fluktuatif dengan kecenderungan untuk menutup lebih lemah lagi.
Analisis Pergerakan di Awal Sesi
Data dari Bloomberg pada pukul 09.31 WIB menunjukkan rupiah melemah 45 poin ke posisi Rp16.929 per USD. Sumber data lain, Yahoo Finance, mencatat angka yang sedikit berbeda di level Rp16.879 pada waktu yang sama. Pelemahan ini terjadi di tengah pengamatan pasar yang sangat hati-hati terhadap sejumlah faktor kunci, baik dari dalam maupun luar negeri.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan ruang gerak rupiah hari ini akan terbatas. "Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp16.880 per USD hingga Rp16.920 per USD," tuturnya.
Sentimen Global yang Memberatkan
Tekanan terhadap rupiah terutama berasal dari ketegangan geopolitik yang belum mereda, meskipun ada laporan kemajuan pembicaraan nuklir antara Amerika Serikat dan Iran. Pasar dinilai masih skeptis, mengingat risiko militer di kawasan Timur Tengah, khususnya di sekitar Selat Hormuz yang vital bagi pasokan minyak global, tetap tinggi.
Ibrahim Assuaibi menjelaskan kompleksitas situasi tersebut. "Pembicaraan ini dipantau ketat oleh pasar energi karena Iran adalah produsen minyak utama dan terletak di sepanjang Selat Hormuz yang sangat penting secara strategis, jalur air sempit yang dilalui sekitar seperlima konsumsi minyak global setiap harinya," paparnya.
Selain itu, pasar juga mengamati perkembangan perundingan damai antara Ukraina dan Rusia, serta menanti dengan cermat rilis risalah kebijakan terakhir The Fed dan data inflasi inti AS. Kedua faktor ini akan menjadi penentu arah kebijakan moneter bank sentral AS, yang berdampak langsung pada aliran modal global dan sentimen investor terhadap aset negara berkembang seperti Indonesia.
Kekhawatiran dari Dalam Negeri: Ketahanan Fiskal
Di sisi domestik, sorotan mulai mengarah pada kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Defisit yang tercatat melebar hingga Rp695,1 triliun atau 2,92% dari PDB di akhir 2025, meski masih di bawah batas aman 3%, mulai memicu diskusi mengenai ruang gerak fiskal ke depan.
Ibrahim Assuaibi mengingatkan bahwa strategi defisit tidak serta-merta menjadi solusi instan. "Strategi defisit tidak otomatis mampu membalikkan kondisi ekonomi dalam satu tahun. Pertumbuhan yang berkelanjutan tetap ditentukan oleh investasi riil, kepastian regulasi, dan produktivitas tenaga kerja," urainya.
Kekhawatiran utama terletak pada kemampuan APBN menahan guncangan eksternal di tengah basis penerimaan yang belum optimal. Ketergantungan pada pembiayaan utang membuat kas negara rentan terhadap volatilitas suku bunga global dan pelemahan nilai tukar, yang dapat meningkatkan beban bunga secara signifikan.
Analis tersebut memperingatkan bahwa daya tahan fiskal tidak lagi sekuat dulu. "Saat penerimaan negara belum kuat sementara keseimbangan primer masih defisit, maka setiap terjadi guncangan eksternal... akan langsung menekan kas negara. Artinya, secara headline (defisit) terlihat aman, tetapi daya tahan fiskal terhadap volatilitas global sudah tidak selega beberapa tahun lalu," jelasnya.
Dengan demikian, pergerakan rupiah hari ini merefleksikan sebuah pertemuan antara ketidakpastian global dan sinyal kehati-hatian terhadap fundamental ekonomi dalam negeri, menciptakan lingkungan perdagangan yang penuh kejutan.
Artikel Terkait
Pegawai Kelurahan Unggah Dokumen Privasi Rio Haryanto karena Rasa Bangga
Mantan Sekjen Kemnaker Akui Terima Rp 125 Juta dari Agen TKA di Sidang Korupsi
Indonesia dan AS Tandatangani 11 MoU dengan Komitmen Investasi US$38,4 Miliar
Pegawai Kelurahan Solo Hadapi Sidang Disiplin Sebarkan Dokumen Pribadi Rio Haryanto