Rupiah Melemah ke Rp16.929/USD, Ditekan Sentimen Global dan Kekhawatiran Fiskal

- Kamis, 19 Februari 2026 | 09:45 WIB
Rupiah Melemah ke Rp16.929/USD, Ditekan Sentimen Global dan Kekhawatiran Fiskal

Selain itu, pasar juga mengamati perkembangan perundingan damai antara Ukraina dan Rusia, serta menanti dengan cermat rilis risalah kebijakan terakhir The Fed dan data inflasi inti AS. Kedua faktor ini akan menjadi penentu arah kebijakan moneter bank sentral AS, yang berdampak langsung pada aliran modal global dan sentimen investor terhadap aset negara berkembang seperti Indonesia.

Kekhawatiran dari Dalam Negeri: Ketahanan Fiskal

Di sisi domestik, sorotan mulai mengarah pada kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Defisit yang tercatat melebar hingga Rp695,1 triliun atau 2,92% dari PDB di akhir 2025, meski masih di bawah batas aman 3%, mulai memicu diskusi mengenai ruang gerak fiskal ke depan.

Ibrahim Assuaibi mengingatkan bahwa strategi defisit tidak serta-merta menjadi solusi instan. "Strategi defisit tidak otomatis mampu membalikkan kondisi ekonomi dalam satu tahun. Pertumbuhan yang berkelanjutan tetap ditentukan oleh investasi riil, kepastian regulasi, dan produktivitas tenaga kerja," urainya.

Kekhawatiran utama terletak pada kemampuan APBN menahan guncangan eksternal di tengah basis penerimaan yang belum optimal. Ketergantungan pada pembiayaan utang membuat kas negara rentan terhadap volatilitas suku bunga global dan pelemahan nilai tukar, yang dapat meningkatkan beban bunga secara signifikan.

Analis tersebut memperingatkan bahwa daya tahan fiskal tidak lagi sekuat dulu. "Saat penerimaan negara belum kuat sementara keseimbangan primer masih defisit, maka setiap terjadi guncangan eksternal... akan langsung menekan kas negara. Artinya, secara headline (defisit) terlihat aman, tetapi daya tahan fiskal terhadap volatilitas global sudah tidak selega beberapa tahun lalu," jelasnya.

Dengan demikian, pergerakan rupiah hari ini merefleksikan sebuah pertemuan antara ketidakpastian global dan sinyal kehati-hatian terhadap fundamental ekonomi dalam negeri, menciptakan lingkungan perdagangan yang penuh kejutan.

Editor: Raditya Aulia


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar