Namun begitu, pekerjaan belum usai. Tito menegaskan pemerintah dan semua pihak terkait masih terus bekerja keras. Fokusnya sekarang pada percepatan pemulihan infrastruktur memperbaiki jalan, jembatan, dan berbagai fasilitas publik yang rusak.
Di sisi lain, tantangan di lapangan ternyata beragam. Setiap daerah punya karakteristik sendiri. Ambil contoh daerah dataran tinggi yang dilanda longsor. Bencana itu bukan cuma merusak, tapi juga mengisolasi. Jalan tertimbun, jembatan putus.
"Tapi mereka terkunci. Itu membuat waktu itu awal-awal [daerah terdampak bencana] kesulitan logistik," imbuh Tito.
Ia melanjutkan, kondisi di pegunungan memang unik. "Di daerah pegunungan ini hampir tidak pernah ada sekian puluh tahun bencana seperti ini. Sehingga sistem logistik mereka itu mungkin tiga hari saja mampu."
Kendala semacam inilah yang mendorong koordinasi lebih intens. Satgas pun menjalin komunikasi dengan Menteri Pertanian sekaligus Kepala Bapanas, Amran Sulaiman, hingga Perum Bulog. Tujuannya jelas: memastikan stok pangan dan logistik di daerah terdampak benar-benar aman dan mencukupi.
Rapat penting itu sendiri dihadiri banyak pejabat tinggi. Turut hadir sejumlah Wakil Ketua DPR RI seperti Sufmi Dasco Ahmad, Sari Yuliati, Saan Mustopa, dan Cucun Ahmad Syamsurijal. Dari pemerintah, hadir Mensesneg Prasetyo Hadi, Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa, serta sejumlah menteri Kabinet Merah Putih lainnya.
Artikel Terkait
Dispora DKI Tegaskan Lapangan Maroedja Sport Park Gratis, Tak Ada Pungutan Liar
Ketua MPR Sampaikan Salam Presiden Prabowo untuk Tokoh dan Ulama di Yogyakarta
Iduladha 2026 Diprediksi 27 Mei, Berpotensi Ciptakan Libur Panjang
Banjir Bandang di Angola Tewaskan 15 Orang dan Rendam Ribuan Rumah