MURIANETWORK.COM - Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memprediksi akan terjadi perbedaan dalam penentuan awal Ramadan 1447 Hijriah atau tahun 2026 di Indonesia. Perbedaan ini dipicu oleh penggunaan dua acuan hilal yang berbeda, yaitu hilal global dan hilal lokal, yang berpotensi menyebabkan awal bulan suci jatuh pada tanggal yang berbeda.
Dua Metode, Dua Kemungkinan Tanggal
Koordinator Kelompok Riset Astronomi dan Observatorium Pusat Riset Antariksa BRIN, Profesor Thomas Djamaluddin, menjelaskan bahwa situasi kali ini memiliki karakteristik khusus. Berbeda dengan perdebatan sebelumnya yang biasanya berkisar pada metode hisab versus rukyat atau perbedaan kriteria, pemicu utama pada 2026 adalah perbedaan acuan wilayah hilal itu sendiri.
"Perbedaan kali ini berbeda dengan yang sebelumnya karena beda metode (hisab vs rukyat) atau beda kriteria (Wujudul Hilal vs Imkan Rukyat). Perbedaan kali ini karena beda hilal global vs hilal lokal," tutur Thomas dalam keterangannya, Selasa (17/2/2026).
Memahami Konsep Hilal Global
Dalam konsep hilal global, penentuan awal bulan Hijriah merujuk pada terpenuhinya kriteria visibilitas hilal (Imkanur Rukyat) di satu titik mana saja di dunia. Thomas memaparkan bahwa pada saat maghrib tanggal 17 Februari 2026, kriteria tersebut diprediksi telah terpenuhi di wilayah seperti Alaska.
Artikel Terkait
Arema FC dan Malut United Bermain Imbang 1-1 di Kanjuruhan
Banjir Rendam Ribuan Rumah di Lima Kecamatan Grobogan
Hujan Deras di Donggala Rendam 552 Rumah, Bupati Perintahkan Normalisasi Sungai
Kanwil Ditjenpas Maluku dan Pengadilan Tinggi Ambon Perkuat Kolaborasi Implementasi KUHP Baru