NU di Akar Rumput: Moderasi sebagai Jargon, Tantangan Nyata di Lapangan

- Selasa, 17 Februari 2026 | 07:30 WIB
NU di Akar Rumput: Moderasi sebagai Jargon, Tantangan Nyata di Lapangan

Prinsip "adab di atas ilmu" yang mulia pun terkadang disalahartikan dalam konteks ini. Ilmu yang dangkal, tanpa disadari, justru dapat memicu sikap sok benar. Padahal, toleransi sejati harus lahir dari kedalaman ilmu dan pemahaman yang komprehensif, bukan dari ketidaktahuan.

Membuka Jendela Ilmu: Langkah Strategis ke Depan

Untuk menjembatani kesenjangan antara cita dan fakta ini, diperlukan langkah-langkah strategis yang berani. Salah satunya adalah dengan memperluas akses pendidikan bagi kader-kader NU ke pusat-pusat keilmuan Islam yang terkenal dengan tradisi moderat dan keragamannya, seperti Universitas Al-Azhar di Mesir, Universitas Zaituna di Tunisia, atau Universitas Al-Qarawiyyin di Maroko.

Di institusi seperti Al-Azhar, misalnya, para mahasiswa memang dididik untuk mempelajari berbagai mazhab fikih secara seimbang. Mereka belajar untuk hidup dalam keragaman pemikiran tanpa merasa terancam.

Namun, fasilitasi beasiswa untuk tujuan pendidikan semacam ini masih terbatas. Jumlah beasiswa yang tersedia belum sebanding dengan besarnya jaringan pesantren yang ada di bawah naungan NU.

"Harusnya PBNU yang menaungi ribuan pesantren mendapatkan ribuan beasiswa santri terutama ke Al Azhar," ungkap seorang pengamat pendidikan pesantren.

Kehadiran para alumni yang pernah menimba ilmu di lingkungan akademik yang plural diharapkan dapat membawa angin segar dan kurikulum yang lebih terbuka ke pesantren-pesantren. Mereka diharapkan dapat mengajarkan bahwa perbedaan pendapat dalam hal-hal furu' adalah keniscayaan dalam khazanah keislaman.

Ilmu Sebagai Cahaya Penuntun

Pada akhirnya, moderasi dan toleransi beragama harus dikembalikan sebagai buah dari kekuatan intelektual, bukan sekadar slogan. Selama pemahaman keagamaan di tingkat dasar masih sempit dan menganggap perbedaan sebagai ancaman, maka moderasi akan tetap menjadi jargon yang kosong.

Perlu ada upaya sistematis untuk meningkatkan kualitas ilmu para warganya, dengan membuka cakrawala pemikiran seluas-luasnya. Ilmu adalah cahaya yang dapat menerangi keragaman, sementara kebodohan hanya akan melahirkan kegelapan dan prasangka. Perjalanan untuk mengisi jurang antara teori moderasi dan praktik keseharian ini adalah pekerjaan rumah bersama yang mendesak untuk diselesaikan.

Editor: Handoko Prasetyo


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar