Bamsoet Apresiasi Buku yang Soroti Politik Rasional Prabowo

- Senin, 16 Februari 2026 | 09:55 WIB
Bamsoet Apresiasi Buku yang Soroti Politik Rasional Prabowo

“Demokrasi tidak akan rusak karena perbedaan,” tegas Osdar.

“Tetapi Ia bisa rusak karena ketidakmampuan mengelola perbedaan. Politik tanpa panggung adalah politik yang tidak sibuk memperlebar jarak, tetapi berupaya menjembatani kepentingan demi stabilitas nasional agar investasi tumbuh, dunia usaha berkembang.”

Buku ini juga menyoroti soal relasi politik. Menurut Osdar, hubungan yang dibangun atas dasar saling menghormati peran kelembagaan justru mampu menciptakan stabilitas jangka panjang. Tidak harus selalu lewat koalisi formal atau pernyataan publik yang bombastis.

“Terpenting dalam politik adalah kejelasan tujuan dan komitmen kebangsaan,” ucap Osdar.

“Ketika tujuan nasional menjadi titik temu, maka ego personal dan kepentingan jangka pendek harus dikesampingkan.”

Pandangan serupa datang dari pengamat politik Rocky Gerung. Ia menegaskan bahwa politik tak boleh cuma diukur dari elektabilitas semata, tetapi harus berangkat dari etika dan moralitas. Ia melihat sense of keperwiraan dalam diri Prabowo, yang tercermin dari sikap dan keputusannya.

Rocky lalu bercerita tentang satu momen krusial di Pilpres 2019. “Waktu itu Pak Prabowo minta masukan apa yang perlu disampaikan di debat. Saya sarankan beliau membawa buku The Great Disruption karya Francis Fukuyama dan menanyakan kepada Pak Joko Widodo bagian mana yang menarik. Itu untuk menguji kedalaman literasi kepemimpinan,” ungkapnya.

Strategi itu, diakui Rocky, berpotensi memberi keuntungan elektoral yang besar. Namun, Prabowo memilih jalan lain.

“Beliau menolak karena tidak ingin menghina Presiden Jokowi di panggung. Di situ saya melihat ada etika dan moralitas yang didahulukan. Politik bagi beliau bukan sekadar soal menang, tetapi juga menjaga martabat,” pungkas Rocky.

Peluncuran buku itu sendiri ramai dihadiri sejumlah tokoh. Tercatat hadir Wakil Ketua DPD RI Tamsil Linrung, Menteri Kebudayaan Fadli Zon, hingga Menkominfo Meutia Hafid. Tak ketinggalan mantan Kapolri Jenderal (Purn) Sutarman, mantan Ketua DPR Setya Novanto, dan tentu saja, Rocky Gerung sendiri.

Editor: Erwin Pratama


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar