Rekonstruksi Pembunuhan di Asahan Ricuh, Ibu Korban Meledak di Lokasi

- Jumat, 03 April 2026 | 10:00 WIB
Rekonstruksi Pembunuhan di Asahan Ricuh, Ibu Korban Meledak di Lokasi

Rekonstruksi Pembunuhan di Asahan Berakhir Ricuh, Ibu Korban Tak Kuasa Tahan Amarah

Suasana tegang dan emosional menyelimuti proses rekonstruksi pembunuhan seorang istri oleh suaminya sendiri di Sidodadi, Asahan, Sumatera Utara. Peristiwa naas itu terjadi awal Februari lalu. Menurut sejumlah saksi, rekonstruksi yang digelar Satreskrim Polres Asahan itu akhirnya ricuh. Bukan tanpa sebab.

Ibu korban, Isnaini Putri, tak mampu lagi menahan gejolak hatinya. Ia menangis histeris, amukannya meledak di tengah proses. Tak hanya tangis, makian pedas juga dilontarkannya langsung ke arah tersangka, mantan menantunya sendiri, yang saat itu memeragakan ulang adegan keji tersebut.

Ipda Asido Nababan, Kanit Jatanras Polres Asahan, menjelaskan tujuan acara hari itu. "Rekonstruksi ini kami lakukan untuk mengungkap fakta sebenarnya dan tentunya memperkuat barang bukti untuk proses hukum nantinya," ujarnya.

Dia juga memberi penjelasan soal lokasi. "Sebenarnya ada 3 TKP yang akan kami rekonstruksi. Namun, karena TKP pertama ada di Tanjung Balai, akhirnya kami rangkum semuanya di sini saja," tambah Asido di lokasi kejadian.

Proses itu sendiri memainkan 17 adegan berurutan. Mulai dari saat tersangka datang menjemput korban di rumah, hingga puncak penganiayaan yang merenggut nyawa. Adegan-adegan itu diperankan oleh tersangka dan beberapa saksi lain.

Rinciannya mengerikan. Tersangka diduga memukul korban berulang kali. Lalu, menyelupkan kepalanya ke dalam bak air. Yang lebih kejam, ia sempat berusaha menutupi pembunuhan ini dengan berpura-pura seolah-olah itu adalah sebuah kecelakaan belaka.

Di sisi lain, upaya penyelidikan yang digarap Tim Satreskrim berhasil membongkar kebenaran. Kematian sang istri bukanlah kecelakaan, melainkan hasil dari tindak kekerasan. Untuk memastikan semua berkas dan pengakuan tersangka akurat, JPU turut hadir menyaksikan langsung rekonstruksi yang ricuh ini.

Nuansa duka dan kemarahan masih jelas terasa. Kesedihan seorang ibu yang kehilangan anaknya, bercampur dengan upaya aparat menegakkan keadilan, menciptakan drama pilu yang sulit dilupakan.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar