Dosen Komunikasi Manfaatkan Animasi dan Media Digital untuk Tekan Stunting di NTT

- Sabtu, 14 Februari 2026 | 20:30 WIB
Dosen Komunikasi Manfaatkan Animasi dan Media Digital untuk Tekan Stunting di NTT

Lalu, apa yang mendorong akademisi muda ini terjun ke lapangan? Ceritanya berawal dari beasiswa Tanoto Foundation yang ia terima saat menempuh S2 di Universitas Indonesia. Menurut Faris, beasiswa itu memberinya lebih dari sekadar dukungan dana.

Jejaring dari komunitas alumni beasiswa itulah yang kemudian membawanya terlibat dalam riset pendidikan anak usia dini di Kepulauan Seribu, dan akhirnya bergabung dengan Yayasan Balita Sehat. "Sifatnya probono. Sukarela," ujar doktor lulusan Universitas Paramadina ini.

Namun begitu, Faris sadar betul bahwa pekerjaan rumah Indonesia masih besar. Edukasi harus lebih intens, terutama kepada orang tua. Banyak yang masih abai, menganggap masalah nutrisi anak hal sepele.

Parahnya, masalah ini bukan cuma terjadi di daerah terpencil. Di perkotaan pun, problem seperti kebersihan dan konsumsi makanan ultra-processed masih banyak ditemui. "Literasi mereka terkait gizi dan kesehatan itu perlu ditingkatkan," katanya.

Di sinilah peran komunikasi, menurut Faris, menjadi krusial. Ia mendorong para kreator konten untuk memanfaatkan teknologi digital dan AI guna menciptakan kampanye kesehatan yang lebih menarik. "Kita enggak bisa melihat itu sebagai ancaman, tapi justru alat bantu supaya kita lebih produktif," paparnya.

Prinsip yang dipegang Faris sederhana: satu persen kebaikan setiap hari. Perubahan kecil yang konsisten, lama-lama akan terakumulasi menjadi sesuatu yang besar.

Memang, efeknya tak seinstan Popeye makan bayam. Tapi tekad Faris untuk berkontribusi di bidang kesehatan ibu dan anak, rasanya tak kalah kuat dari otot si pelaut legendaris itu.

Editor: Hendra Wijaya


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar