Ingat Popeye si pelaut? Tubuhnya yang semula kurus, tiba-tiba jadi kekar berotot sehabis melahap sekaleng bayam. Musuh-musuhnya pun babak belur. Karakter kartun era 70-90an itu ternyata bukan cuma tontonan lucu. Di Amerika sana, dampaknya luar biasa: konsumsi bayam anak-anak melonjak 33% pada 1930-an. Ya, meski otot tak langsung menggelembung seperti di layar, efek kesehatannya nyata.
Fenomena itu kemudian dikenal sebagai "The Popeye Principle". Intinya, media populer terutama visual bisa membentuk norma sosial tentang kesehatan. Anak-anak menyerap pesan tanpa merasa digurui. Mereka terpikat oleh ilustrasi yang menarik, bukan oleh ceramah yang membosankan.
Nah, prinsip itu masih relevan banget sampai sekarang. Lihat saja bagaimana langkah cuci tangan dan pakai masker di sosialisasikan lewat "Upin dan Ipin", atau tema kesehatan mental yang diangkat film "Inside Out 2".
Faris Budiman Annas, dosen Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina, membenarkan hal ini. Menurutnya, karya visual adalah senjata ampuh untuk kampanye kesehatan anak-anak.
"Kita berikan literasi kesehatan dan gizi dalam format yang menarik, seperti video animasi. Jadi anak-anak tidak merasa bosan karena kita kemas programnya sesuai usia mereka," jelas Faris.
Strateginya pun berkembang. Kini, konten visual dan animasi tak cuma ditayangkan, tapi disebar lewat media digital dan diolah jadi permainan interaktif. "Kita implementasikan teknologi. Jadi tidak pakai cara-cara konvensional," imbuhnya.
Metode ini ternyata efektif bukan cuma untuk anak. Orang tua juga lebih mudah paham ketika isu kesehatan disajikan dengan cara yang atraktif. Harapannya jelas: meningkatkan literasi kesehatan, memperbaiki gizi, dan mencegah stunting.
Faris tak cuma bicara teori. Sejak 2019, ia aktif sebagai relawan di Foundation for Mother and Child Health (FMCH) Indonesia atau Yayasan Balita Sehat. Ia terjun langsung ke daerah-daerah seperti Nusa Tenggara Timur (NTT), yang angka stuntingnya masih tinggi, mencapai 37%.
Di sana, ia memanfaatkan keahlian komunikasinya. Mulai dari jadi fotografer dokumentasi, menyiapkan materi kampanye, hingga mengembangkan berbagai program kreatif. Ia turut merancang perpustakaan keliling, pertunjukan boneka, sampai seri animasi 'Aku Bisa Hadapi Ini'.
"Kalau anak-anak dan orang tuanya literasi gizinya bagus, ujung-ujungnya tingkat stuntingnya menurun," tegas Faris.
Lalu, apa yang mendorong akademisi muda ini terjun ke lapangan? Ceritanya berawal dari beasiswa Tanoto Foundation yang ia terima saat menempuh S2 di Universitas Indonesia. Menurut Faris, beasiswa itu memberinya lebih dari sekadar dukungan dana.
"Kepekaan terhadap isu sosial itu terpantik gara-gara aktif waktu dulu dapat beasiswa. Sampai sekarang, saat sudah jadi alumni, saya masih aktif di kegiatan sosial. Kalau saya flashback, momentum yang membangkitkan insting untuk punya kepekaan sosial ya di program Tanoto Scholar itu," kenangnya.
Jejaring dari komunitas alumni beasiswa itulah yang kemudian membawanya terlibat dalam riset pendidikan anak usia dini di Kepulauan Seribu, dan akhirnya bergabung dengan Yayasan Balita Sehat. "Sifatnya probono. Sukarela," ujar doktor lulusan Universitas Paramadina ini.
Namun begitu, Faris sadar betul bahwa pekerjaan rumah Indonesia masih besar. Edukasi harus lebih intens, terutama kepada orang tua. Banyak yang masih abai, menganggap masalah nutrisi anak hal sepele.
Parahnya, masalah ini bukan cuma terjadi di daerah terpencil. Di perkotaan pun, problem seperti kebersihan dan konsumsi makanan ultra-processed masih banyak ditemui. "Literasi mereka terkait gizi dan kesehatan itu perlu ditingkatkan," katanya.
Di sinilah peran komunikasi, menurut Faris, menjadi krusial. Ia mendorong para kreator konten untuk memanfaatkan teknologi digital dan AI guna menciptakan kampanye kesehatan yang lebih menarik. "Kita enggak bisa melihat itu sebagai ancaman, tapi justru alat bantu supaya kita lebih produktif," paparnya.
Prinsip yang dipegang Faris sederhana: satu persen kebaikan setiap hari. Perubahan kecil yang konsisten, lama-lama akan terakumulasi menjadi sesuatu yang besar.
"Tujuannya berkembang setiap hari meski hanya sedikit. Dari small step, improvement kecil yang lama-lama akumulasinya akan jadi besar," ujarnya penuh optimisme.
Memang, efeknya tak seinstan Popeye makan bayam. Tapi tekad Faris untuk berkontribusi di bidang kesehatan ibu dan anak, rasanya tak kalah kuat dari otot si pelaut legendaris itu.
Artikel Terkait
Polda Metro Jaya Siagakan 10.000 Personel Antisipasi Kerawanan Ramadan
Tanjungpinang Gelar Shalat Istisqa Respons Kemarau Panjang
Megawati Jalani Ibadah Umrah di Makkah Jelang Ramadan
Tiga Menteri Terbitkan Pedoman Pembelajaran Adaptif Selama Ramadan 2026