Dosen Komunikasi Manfaatkan Animasi dan Media Digital untuk Tekan Stunting di NTT

- Sabtu, 14 Februari 2026 | 20:30 WIB
Dosen Komunikasi Manfaatkan Animasi dan Media Digital untuk Tekan Stunting di NTT

Ingat Popeye si pelaut? Tubuhnya yang semula kurus, tiba-tiba jadi kekar berotot sehabis melahap sekaleng bayam. Musuh-musuhnya pun babak belur. Karakter kartun era 70-90an itu ternyata bukan cuma tontonan lucu. Di Amerika sana, dampaknya luar biasa: konsumsi bayam anak-anak melonjak 33% pada 1930-an. Ya, meski otot tak langsung menggelembung seperti di layar, efek kesehatannya nyata.

Fenomena itu kemudian dikenal sebagai "The Popeye Principle". Intinya, media populer terutama visual bisa membentuk norma sosial tentang kesehatan. Anak-anak menyerap pesan tanpa merasa digurui. Mereka terpikat oleh ilustrasi yang menarik, bukan oleh ceramah yang membosankan.

Nah, prinsip itu masih relevan banget sampai sekarang. Lihat saja bagaimana langkah cuci tangan dan pakai masker di sosialisasikan lewat "Upin dan Ipin", atau tema kesehatan mental yang diangkat film "Inside Out 2".

Faris Budiman Annas, dosen Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina, membenarkan hal ini. Menurutnya, karya visual adalah senjata ampuh untuk kampanye kesehatan anak-anak.

Strateginya pun berkembang. Kini, konten visual dan animasi tak cuma ditayangkan, tapi disebar lewat media digital dan diolah jadi permainan interaktif. "Kita implementasikan teknologi. Jadi tidak pakai cara-cara konvensional," imbuhnya.

Metode ini ternyata efektif bukan cuma untuk anak. Orang tua juga lebih mudah paham ketika isu kesehatan disajikan dengan cara yang atraktif. Harapannya jelas: meningkatkan literasi kesehatan, memperbaiki gizi, dan mencegah stunting.

Faris tak cuma bicara teori. Sejak 2019, ia aktif sebagai relawan di Foundation for Mother and Child Health (FMCH) Indonesia atau Yayasan Balita Sehat. Ia terjun langsung ke daerah-daerah seperti Nusa Tenggara Timur (NTT), yang angka stuntingnya masih tinggi, mencapai 37%.

Di sana, ia memanfaatkan keahlian komunikasinya. Mulai dari jadi fotografer dokumentasi, menyiapkan materi kampanye, hingga mengembangkan berbagai program kreatif. Ia turut merancang perpustakaan keliling, pertunjukan boneka, sampai seri animasi 'Aku Bisa Hadapi Ini'.

Editor: Hendra Wijaya


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar