Keterlambatan itu rupanya memicu emosi si pemesan. Menurut Hasan, pelaku mengaku kalau tindakannya didorong rasa kesal. “Katanya sih memang karena atas dasar emosi saja, karena capek pulang kerja dan istrinya sedang sakit,” ungkap Hasan.
Di sisi lain, Hasan bisa memahami situasi pelaku, meski tak membenarkan tindak kekerasannya. “Bapaknya pulang kerja capek juga, makanya bapaknya emosi karena istrinya sedang sakit tapi tukang pijitnya enggak datang-datang karena salah alamat,” jelasnya. Simpang siur alamat itu membuat mereka terlambat lama sekali.
Kini, setelah semuanya selesai, Hasan menyampaikan rasa terima kasihnya. “Yang jelas pertama saya mengucapkan terima kasih berkat semua yang bantu menyuarakan, berkat media juga akhirnya bisa selesai masalahnya,” kata dia. Harapannya sederhana: insiden serupa tak terulang lagi di jalanan.
Sebagai catatan, kronologi awalnya memang rumit. Setiba di jalan yang dituju, N ternyata tak paham jalan menuju rumah tujuan. Hasan pun memintanya menghubungi pelanggan. Bukannya mendapat petunjuk, N justru dimaki-maki oleh suami si pemesan di telepon. Dari situlah ketegangan mulai meruncing, dan berujung pada insiden yang kini sudah didamaikan itu.
Artikel Terkait
Diplomat PBB Mundur, Klaim Badan Dunia Siapkan Skenario Nuklir untuk Iran
Verifikasi Data 11 Juta Penerima Bantuan JKN Capai 98 Persen
Monas Perpanjang Jam Operasional hingga Pukul 22.00 di Akhir Pekan
Kemiskinan dan Pengangguran di Jabar Turun pada 2025, Capaian Pembangunan Meningkat