Kinerja Jabar 2025: Kemiskinan dan Pengangguran Berhasil Ditekan
Pemerintah Jawa Barat boleh sedikit bernapas lega. Di penghujung 2025, capaian pembangunan daerah mereka dinilai cukup tinggi oleh pemerintah pusat. Skornya, 3,6672 berdasarkan keputusan Mendagri. Angka itu bukan sekadar statistik di atas kertas. Dampaknya ternyata terasa langsung di lapangan, terutama dalam perbaikan dua indikator krusial: kemiskinan dan pengangguran.
Data BPS menunjukkan, persentase penduduk miskin di Jabar berhasil ditekan menjadi 6,78 persen tahun lalu. Itu artinya sekitar 3,55 juta jiwa. Memang masih besar, tapi setidaknya ada penurunan dibanding kondisi 2024 yang berada di angka 7,08 persen.
Wakil Gubernur Erwan Setiawan mengakui, perbaikan ini hasil dari serangkaian upaya yang digeber Pemprov. Fokusnya tiga hal: mempersempit kantong kemiskinan, meringankan beban pengeluaran, dan tentu saja, mendongkrak pendapatan warga.
“Pemda Provinsi Jawa Barat membiayai iuran jaminan kesehatan bagi masyarakat miskin sehingga dapat menekan pengeluaran masyarakat miskin,”
kata Erwan dalam keterangan tertulisnya, Selasa (31/3/2026).
Untuk urusan pangan, misalnya, gerakan pangan murah digelar hampir 1.900 kali sepanjang tahun di 27 kabupaten dan kota. Operasi pasar bersubsidi juga jalan terus, memberi ruang bagi masyarakat membeli kebutuhan pokok dengan harga lebih terjangkau. Mereka bahkan punya peta kerawanan pangan untuk memastikan intervensi tepat sasaran.
Tak cuma di kesehatan dan pangan, upaya pengurangan beban hidup warga miskin merambah ke sektor lain. Di bidang energi, misalnya, lebih dari 76 ribu calon penerima sambungan listrik telah diidentifikasi di ratusan desa. Tujuannya jelas: mengurangi ketimpangan akses.
Di sisi lain, meningkatkan pendapatan jadi pekerjaan rumah yang lain. Caranya? Pelatihan untuk calon pekerja migran menjadi salah satu jalurnya. Selain itu, bantuan modal usaha juga disalurkan.
“Kami juga menyalurkan bantuan modal usaha kepada kelompok usaha bersama (KUBE) sebanyak 57 KUBE untuk meningkatkan pendapatan fakir miskin,”
tambah Erwan.
Angka Pengangguran Juga Menyusut
Kabar baik lainnya datang dari pasar tenaga kerja. Tingkat pengangguran terbuka di Jawa Barat berhasil turun tipis, dari 6,75 persen di 2024 menjadi 6,66 persen di tahun lalu. Artinya, dari setiap 100 orang angkatan kerja, sekitar enam atau tujuh orang masih belum mendapat pekerjaan. Capaian ini bahkan melampaui target yang ditetapkan sebelumnya, yaitu 6,99 persen.
Menurut Erwan, penurunan ini didorong oleh membaiknya penyerapan tenaga kerja di beberapa sektor kunci. Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menyerap tambahan 100 ribu orang. Sektor pendidikan menyerap 50 ribu, sementara akomodasi dan makan minum bertambah 40 ribu pekerja.
Namun begitu, tidak semua sektor mengalami pertumbuhan. Sektor pertambangan dan penggalian justru kehilangan 40 ribu pekerjaan.
Secara keseluruhan, kontributor terbesar penyerapan tenaga kerja di Jabar masih didominasi oleh sektor reparasi mobil dan motor (22,44%), diikuti industri pengolahan (18,61%), dan pertanian (15,43%). Pola ini menunjukkan, ekonomi Jabar masih bertumpu pada sektor-sektor tradisional yang padat karya, meski perlahan ada pergeseran.
Jadi, meski tantangan ke depan masih berat, setidaknya langkah awal di 2025 ini memberikan sinyal yang positif. Angka-angka itu mulai bergerak ke arah yang diharapkan.
Artikel Terkait
TNI AL Temukan Kandungan Logam Tanah Jarang dan Unsur Radioaktif di 25 Kontainer Ilegal Batam
Pria Tenggelam Saat Cuci Usus Sapi Kurban di Anak Sungai Musi Palembang
Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko Tutup Lebih Awal saat Waisak, Pengunjung Hanya Boleh hingga Pelataran
BSN Salurkan 245 Hewan Kurban ke Masyarakat di Seluruh Indonesia