AS Bebaskan Tarif Sawit hingga Kopi RI, Pelaku Usaha Soroti Tantangan Ekspor

- Jumat, 13 Februari 2026 | 01:45 WIB
AS Bebaskan Tarif Sawit hingga Kopi RI, Pelaku Usaha Soroti Tantangan Ekspor

JAKARTA Kabar baik datang dari Washington. Amerika Serikat memberi lampu hijau pengecualian tarif untuk sejumlah komoditas andalan Indonesia, mulai dari minyak sawit, kopi, hingga kakao. Peluang ekspor pun terbuka lebar. Namun begitu, ada catatan penting: kebijakan ini dinilai belum akan optimal kalau cuma fokus pada bahan mentah. Dorongan untuk produk olahan bernilai tambah tampaknya masih kurang.

Di sektor sawit, responsnya cukup positif. Eddy Martono, Ketua Umum Gapki, menyebut kinerja ekspor minyak sawit ke AS sebenarnya sudah solid. Trennya naik terus, bahkan sekarang volumenya sudah melampaui 2 juta ton.

“Artinya ada potensi apabila tarif menjadi 0%, ekspor ke AS bisa sampai 3 juta ton [dalam] 2 tahun ke depan, karena saat food industry yang banyak membutuhkan minyak sawit,” ujar Eddy kepada Bisnis, Kamis (12/2/2026).

Data Gapki mencatat, ekspor pada 2023 mencapai 2,5 juta ton. Angka itu sempat turun jadi 2,3 juta ton di 2024. Tapi, ruang untuk tumbuh masih besar kalau tarif benar-benar nol persen.

Lain cerita dengan kakao. Soetanto Abdoellah, Ketua Umum Dekaindo, menyambut kabar ini dengan hati-hati. Menurutnya, ekspor kakao Indonesia ke AS memang berpeluang naik, tapi peningkatannya tidak akan signifikan.

Alasannya? Volume ekspor produk kakao seperti lemak kakao, cokelat, dan biji ke AS selama ini relatif kecil. Pasar utama Indonesia justru China dan Belanda. Bahkan untuk biji kakao, pengiriman ke AS jauh kalah dibandingkan ke Malaysia atau negara-negara Eropa seperti Belgia dan Prancis.

“Mungkin akan menaikkan kinerja perdagangan Indonesia dengan AS ke depan, tetapi saya kira khususnya untuk komoditas kakao dan produk turunannya tidak terlalu signifikan,” jelas Soetanto.

Editor: Bayu Santoso


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar