JAKARTA Kabar baik datang dari Washington. Amerika Serikat memberi lampu hijau pengecualian tarif untuk sejumlah komoditas andalan Indonesia, mulai dari minyak sawit, kopi, hingga kakao. Peluang ekspor pun terbuka lebar. Namun begitu, ada catatan penting: kebijakan ini dinilai belum akan optimal kalau cuma fokus pada bahan mentah. Dorongan untuk produk olahan bernilai tambah tampaknya masih kurang.
Di sektor sawit, responsnya cukup positif. Eddy Martono, Ketua Umum Gapki, menyebut kinerja ekspor minyak sawit ke AS sebenarnya sudah solid. Trennya naik terus, bahkan sekarang volumenya sudah melampaui 2 juta ton.
“Artinya ada potensi apabila tarif menjadi 0%, ekspor ke AS bisa sampai 3 juta ton [dalam] 2 tahun ke depan, karena saat food industry yang banyak membutuhkan minyak sawit,” ujar Eddy kepada Bisnis, Kamis (12/2/2026).
Data Gapki mencatat, ekspor pada 2023 mencapai 2,5 juta ton. Angka itu sempat turun jadi 2,3 juta ton di 2024. Tapi, ruang untuk tumbuh masih besar kalau tarif benar-benar nol persen.
Lain cerita dengan kakao. Soetanto Abdoellah, Ketua Umum Dekaindo, menyambut kabar ini dengan hati-hati. Menurutnya, ekspor kakao Indonesia ke AS memang berpeluang naik, tapi peningkatannya tidak akan signifikan.
Alasannya? Volume ekspor produk kakao seperti lemak kakao, cokelat, dan biji ke AS selama ini relatif kecil. Pasar utama Indonesia justru China dan Belanda. Bahkan untuk biji kakao, pengiriman ke AS jauh kalah dibandingkan ke Malaysia atau negara-negara Eropa seperti Belgia dan Prancis.
“Mungkin akan menaikkan kinerja perdagangan Indonesia dengan AS ke depan, tetapi saya kira khususnya untuk komoditas kakao dan produk turunannya tidak terlalu signifikan,” jelas Soetanto.
Hambatan lain adalah regulasi. Standar keamanan pangan AS terkenal ketat. Isu residu pestisida dan kandungan logam berat sering jadi penghalang utama. Ditambah lagi, harga biji kakao global yang sedang turun kini di bawah US$4.000 per ton membuat banyak pelaku usaha memilih untuk wait and see. Mereka enggan mengambil risiko kerugian.
Dekaindo sendiri memperkirakan, peningkatan ekspor kakao ke AS akibat kebijakan ini kemungkinan di bawah 10%.
Bagaimana dengan kopi? Di sini optimisme lebih terasa. Daroe Handojo, Direktur PT Noozkav Kopi Indonesia, mengamati permintaan kopi dari AS sudah mulai merangkak naik. Dia yakin perjanjian dagang ini akan memberi dampak positif.
“Untuk AS bisa diperkirakan akan mengganti porsi negara lain dalam jumlah besar. Mungkin mayoritas akan mengambil dari Indonesia,” kata Daroe.
Potensinya memang besar. Tapi Daroe tak menampik tantangan di dalam negeri. Peningkatan kualitas dan kuantitas produksi, termasuk soal ketertelusuran, tetap jadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Kalau tidak, peluang sebesar apa pun bisa terlewat.
Jadi, lampu hijau dari AS ini ibarat pintu yang terbuka. Tapi, seberapa jauh Indonesia bisa masuk dan menguasai ruang di dalamnya, sangat tergantung pada kesiapan industri di dalam negeri sendiri. Tidak cukup hanya mengandalkan bahan mentah.
Artikel Terkait
Anggota DPR Desak Investigasi Tuntas Penembakan Pesawat di Papua Selatan
BTS Pecahkan Rekor Penjualan Tiket di London, Ludes dalam 30 Menit
Trump Tegaskan Negosiasi dengan Iran Berlanjut Meski Netanyahu Ragukan Hasilnya
Kejagung Geledah Delapan Perusahaan Sawit di Pekanbaru dan Medan