Hambatan lain adalah regulasi. Standar keamanan pangan AS terkenal ketat. Isu residu pestisida dan kandungan logam berat sering jadi penghalang utama. Ditambah lagi, harga biji kakao global yang sedang turun kini di bawah US$4.000 per ton membuat banyak pelaku usaha memilih untuk wait and see. Mereka enggan mengambil risiko kerugian.
Dekaindo sendiri memperkirakan, peningkatan ekspor kakao ke AS akibat kebijakan ini kemungkinan di bawah 10%.
Bagaimana dengan kopi? Di sini optimisme lebih terasa. Daroe Handojo, Direktur PT Noozkav Kopi Indonesia, mengamati permintaan kopi dari AS sudah mulai merangkak naik. Dia yakin perjanjian dagang ini akan memberi dampak positif.
“Untuk AS bisa diperkirakan akan mengganti porsi negara lain dalam jumlah besar. Mungkin mayoritas akan mengambil dari Indonesia,” kata Daroe.
Potensinya memang besar. Tapi Daroe tak menampik tantangan di dalam negeri. Peningkatan kualitas dan kuantitas produksi, termasuk soal ketertelusuran, tetap jadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Kalau tidak, peluang sebesar apa pun bisa terlewat.
Jadi, lampu hijau dari AS ini ibarat pintu yang terbuka. Tapi, seberapa jauh Indonesia bisa masuk dan menguasai ruang di dalamnya, sangat tergantung pada kesiapan industri di dalam negeri sendiri. Tidak cukup hanya mengandalkan bahan mentah.
Artikel Terkait
Ganjil-Genap Kembali Berlaku di Jakarta Usai Libur Lebaran
Arus Balik Liburan Picu Kemacetan Parah di Sejumlah Ruas Tol Jakarta
Iran Sebut Serangan AS-Israel Sebabkan Pemadaman Listrik Besar di Teheran
Nasib Ribuan PPPK Terancam Imbas Kebijakan Efisiensi Anggaran