Untuk urusan eksternal, neraca perdagangan masih surplus. Desember lalu, Indonesia mencatatkan surplus dagang US$2,51 miliar. Ini artinya, sudah 68 bulan berturut-turut kita menikmati kondisi surplus. Realisasi investasi, baik PMA maupun PMDN, juga cukup besar: Rp1.931,2 triliun atau setara dengan US$111,7 miliar.
“Cadangan devisa kita masih kuat, di level US$154,6 miliar. Pertumbuhan kredit juga solid, mencapai 9,69 persen,”
tambah Airlangga.
Namun begitu, ada satu catatan yang perlu diperhatikan. Airlangga menyebutkan bahwa peringkat utang Indonesia memang masih di tingkat investment grade di semua lembaga pemeringkat utama. Tapi, pemerintah sedang mengawasi ketat revisi outlook dari Moody’s yang berubah menjadi negatif. Mereka pun tengah menyiapkan respons kebijakan yang tepat.
Seperti diketahui, pada 5 Februari lalu, Moody’s menegaskan peringkat utang Indonesia di Baa2. Hanya saja, outlooknya diubah dari stabil menjadi negatif. Tidak hanya untuk negara, lembaga pemeringkat ini juga mengubah outlook menjadi negatif untuk lima bank besar tanah air: Bank Mandiri, BRI, BNI, BCA, dan BTN. Langkah Moody’s ini tentu jadi perhatian serius di tengah capaian pertumbuhan yang membanggakan tadi.
Artikel Terkait
Kemiskinan dan Pengangguran di Jateng Turun, Luthfi Soroti Pentingnya Kolaborasi
KPK Pastikan Tersangka Korupsi Kuota Haji Masih Berada di Arab Saudi
Calvin Verdonk Soroti Emat Pemain Timnas Indonesia yang Layak Tembus Eropa
Tiga Prajurit TNI Gugur dalam Dua Serangan Terpisah di Lebanon Selatan