Sebenarnya, teknologi peringatan dini buatan dalam negeri sudah ada. Sebut saja LIPI Wiseland dari BRIN, sistem sensor nirkabel yang bisa memantau pergerakan tanah dan memberi peringatan. Atau The Greatest, alat untuk menurunkan muka air tanah di lereng. LIPI Wiseland bahkan bisa mendeteksi longsor enam jam sebelumnya, memberi waktu cukup untuk evakuasi.
Tapi banyak pemerintah daerah yang kurang serius memasangnya. Padahal alat-alat itu sudah teruji.
Personel khusus juga dibutuhkan. Dari Tagana, petugas konservasi, hingga LSM lingkungan. Kompetensi mereka harus terus ditingkatkan agar mampu melakukan pengamatan dan mitigasi langsung di lapangan, termasuk memantau kestabilan lereng. Ilmu ini juga berguna untuk bidang kehutanan dan konservasi.
Kendala lain adalah data. Birokrasi daerah kerap gagal mengolah berbagai data spasial dasar seperti tutupan lahan, DAS, atau peta rawan longsor yang sebenarnya sangat berguna untuk mitigasi. Data-data itu sering belum terkonsolidasi dengan baik.
Untuk bangunan publik di dekat sungai, dibutuhkan metode pengamanan yang cepat tanggap. Misalnya, teknologi pembuatan gabion atau turap yang tepat guna, mudah dirakit, dan menggunakan material lokal. Ini penting untuk mengantisipasi jebolnya tanggul secara besar-besaran.
Intinya, semua upaya teknologi, data, personel, dan metode harus dirumuskan dalam manajemen mitigasi yang solid. Tujuannya satu: mempersingkat durasi penanganan dan mengurangi risiko bencana sedini mungkin.
Totok Siswantara
Pengkaji Transformasi Teknologi dan Infrastruktur. Lulusan Program Profesi Insinyur ITI.
Artikel Terkait
Pengamat: Sistem MLFF Bisa Hilangkan Antrean Tol Akibat Saldo E-Toll Kosong
Gangguan Ginjal Kronis Kini Serang Kaum Muda, Gaya Hidup Jadi Pemicu
Tren Film Indonesia Terinspirasi Kisah Nyata, Sorot Cinta hingga Pengkhianatan
Polres Tapin Panen Perdana Jagung dari Lahan Tidur Milik Polri