Gangguan Ginjal Kronis Kini Serang Kaum Muda, Gaya Hidup Jadi Pemicu

- Sabtu, 28 Maret 2026 | 21:45 WIB
Gangguan Ginjal Kronis Kini Serang Kaum Muda, Gaya Hidup Jadi Pemicu

Gangguan ginjal kronis kini tak lagi cuma jadi momok bagi para lansia. Fenomena yang mengkhawatirkan muncul: semakin banyak anak muda, mereka yang berusia 20 hingga 40 tahun, didiagnosis mengalami penurunan fungsi ginjal. Bahkan, tak sedikit dari mereka yang akhirnya bergantung pada terapi cuci darah.

Menurut sejumlah saksi di lapangan, perubahan gaya hidup diduga kuat menjadi biang keroknya. Anindia Larasati, dokter spesialis penyakit dalam dari RSUI, mengamini hal ini. Ia melihat korelasi yang erat antara pola hidup masa kini dengan melonjaknya penyakit tidak menular di kalangan usia produktif.

"Penyakit ginjal kronis itu kan prosesnya pelan, terjadi penurunan fungsi selama lebih dari tiga bulan," jelasnya.

Masalahnya, pada fase awal, gejalanya seringkali samar. Banyak yang tak sadar sama sekali. Racun pun diam-diam menumpuk dalam tubuh, siap memicu berbagai komplikasi kesehatan di kemudian hari.

Karena itu, Anindia menekankan pentingnya pemeriksaan kesehatan berkala. Itu langkah kunci untuk mendeteksi gangguan sejak dini.

Lalu, apa saja tanda-tandanya?

CDC dan National Kidney Foundation menyoroti beberapa gejala yang patut diwaspadai. Badan terasa gampang lelah, misalnya. Lalu muncul pembengkakan di area kaki atau wajah. Perhatikan juga perubahan pada urin baik warna maupun frekuensinya. Tekanan darah yang tiba-tiba naik, atau rasa mual disertai hilangnya nafsu makan, juga bisa jadi alarm tubuh.

Fungsi ginjal sendiri sangat vital. Organ ini tak cuma menyaring racun dari darah, tapi juga menjaga keseimbangan cairan, elektrolit, dan membantu mengendalikan tekanan darah.

Ilustrasi Pexels

Apa pemicu utamanya?

CDC menunjuk dua tersangka utama: diabetes dan hipertensi. Dua penyakit ini kini banyak menjangkiti kaum muda. Laporan International Diabetes Federation (IDF) mengkonfirmasi tren peningkatan diabetes di usia produktif, yang otomatis berdampak pada lonjakan kasus ginjal.

Hipertensi yang dibiarkan tak terkendali dalam waktu lama juga berbahaya. Perlahan-lahan, ia merusak pembuluh darah kecil di dalam ginjal. Gaya hidup pun punya andil. Kebiasaan mengonsumsi obat antiinflamasi atau suplemen secara sembarangan, tanpa pengawasan dokter, dalam jangka panjang turut menambah risiko.

Di sisi lain, upaya pencegahan sebenarnya bisa dimulai dari hal sederhana. Menerapkan gaya hidup sehat secara konsisten adalah ikhtiar pertama dan utama.

Pencegahan dan pemeriksaan

WHO, CDC, dan National Kidney Foundation punya rekomendasi yang nyaris serupa. Rutinlah cek tekanan darah dan gula darah. Jaga berat badan ideal, batasi asupan garam dan gula, serta penuhi kebutuhan cairan. Berhenti merokok dan hindari penggunaan obat-obatan tanpa resep dokter juga langkah krusial.

Poinnya jelas: jika diabaikan, penyakit ginjal kronis bisa berkembang menjadi gagal ginjal stadium akhir. Pada fase itu, pilihan terapi yang tersisa mungkin hanya cuci darah atau transplantasi. Situasi yang pasti ingin dihindari semua orang, terutama mereka yang masih muda.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar