“Di beberapa sektor atau jenis pekerjaan bisa meningkatkan produktivitas, baik untuk kejiwaan karena terhindar dari macet dan atau ada waktu untuk keluarga dan bahkan bisa membantu mendorong konsumsi serta ekonomi riil,” jelasnya.
Kekhawatiran atas Penyalahgunaan dan Keadilan
Di balik potensi manfaatnya, politisi senior itu juga menyuarakan kekhawatiran. Salah satu risikonya adalah kemungkinan pegawai menganggap hari kerja WFA sebagai hari libur tambahan, yang justru dapat menurunkan disiplin dan kinerja.
Lebih jauh, Deddy menekankan pentingnya kehati-hatian dalam perumusan aturan. Dia mengingatkan agar pemerintah tidak menerapkan kebijakan ini secara serampangan tanpa mempertimbangkan aspek keadilan bagi seluruh pegawai.
Poin krusial yang dia angkat adalah nasib ASN yang karena sifat tugas dan lokasi kerjanya tidak memungkinkan untuk bekerja dari jarak jauh. Kebijakan yang adil, menurutnya, harus memikirkan juga nasib kelompok ini agar tidak timbul kesenjangan baru di internal birokrasi.
Artikel Terkait
BAPERA Bantah Ketum Fahd El Fouz Terkait Dugaan Pengeroyokan
Rano Karno: Perputaran Ekonomi Jakarta Capai Rp48 Triliun di Akhir Tahun
Herdman Puas dengan Persiapan Timnas Indonesia Jelang Final FIFA Series 2026
THR Dongkrak Belanja Ramadan, Tapi Fenomena Makan Tabungan Masih Terjadi