MURIANETWORK.COM - Rektor Universitas Paramadina, Profesor Didik J. Rachbini, mengkritik arah kebijakan perguruan tinggi di Indonesia yang dinilainya justru menjauhkan kampus-kampus Tanah Air dari persaingan global. Dalam analisisnya, kebijakan yang mendorong perguruan tinggi negeri (PTN) untuk mencari pendapatan mandiri telah menggeser orientasi dari riset dan kualitas menjadi industrialisasi pendidikan massal, sehingga membuat ranking universitas Indonesia tertinggal jauh dibanding negara tetangga.
Transformasi Menyimpang dan Fokus pada Kuantitas
Profesor Didik secara khusus menyoroti model PTN Badan Hukum (PTN-BH). Menurut pengamatannya, transformasi yang terjadi justru menyimpang dari tujuan awal peningkatan mutu. Alih-alih berfokus menjadi pusat penelitian unggulan, banyak PTN justru berubah menjadi "industri kursus kuliah massal" dengan penerimaan mahasiswa baru dalam skala yang sangat besar.
Dia memberikan gambaran nyata dengan menyebut angka penerimaan mahasiswa baru di beberapa universitas ternama. "PTN semakin berfungsi sebagai penyerap lulusan SMA secara masif, bukan produsen ilmu pengetahuan. Fenomena ini baru setelah PTN dan PTNBH harus mencari pendapatan sendiri dan mengerahkan tenaga menerima mahasiswa baru dalam jumlah sangat fantastis," ungkapnya dalam keterangan tertulis, Selasa (10/2/2026).
Dampak pada Daya Saing Global
Praktik penerimaan mahasiswa dalam jumlah "fantastis" tersebut, lanjut Didik, secara langsung berdampak pada visi universitas sebagai research university. Dengan jumlah mahasiswa yang bisa mencapai 60 hingga 80 ribu per kampus, fokus institusi akan terpecah dan sulit berkompetisi di kancah internasional.
"Ini tidak masuk akal dan sulit bagi bangsa ini untuk mendorong universitasnya unggul dalam riset dan bisa menjadi pemain di tingkat global dengan cara seperti itu, menjadi teaching university, yang mengeruk pendapatan dari mahasiswa sebanyak mungkin," tegasnya.
Dia kemudian membandingkannya dengan universitas top dunia. "Berapa jumlah mahasiswa kampus top dunia? Harvard hanya menampung 23 ribu mahasiswa berkualitas, Oxford juga tidak jauh berbeda, NUS mempunyai 35 ribu mahasiswa. Jadi jangan berharap Indonesia tampil dalam ranking dunia dengan cara mengerahkan tenaganya menjadi teaching university dan meninggalkan modal research university," tambah Prof Didik.
Kesenjangan dengan Negara Tetangga dan Ancaman bagi PTS
Akibat dari kebijakan ini, tak satu pun kampus Indonesia yang mampu menembus peringkat 100 terbaik dunia. Sementara itu, University of Malaya di Malaysia sudah berada di peringkat 58, dan dua kampus Singapura bahkan masuk dalam 20 besar. "Jadi kita tertinggal karena kampus-kampus negeri yang berada di depan hanya sibuk meraup mahasiswa baru sebanyak-banyaknya untuk menaikkan income dalam rangka memenuhi biaya operasional kampus," ujarnya.
Artikel Terkait
Tuchel Kecewa atas Cemoohan Penonton Wembley untuk Debut Kembali Ben White
Wirtz Bawa Jerman Menang Tipis Atas Swiss Meski Kebobolan Tiga Gol
KPK Tegaskan Perubahan Status Tahanan Gus Yaqut Sesuai Prosedur dan Sampaikan Maaf
Legislator Gerindra Kunjungi Koperasi Prioritas Prabowo di Sidoarjo, Dorong Optimalisasi