Tekanan tidak hanya datang dari pasar saham. Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun terdongkak menjadi 6,42%, mengikuti tren kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) yang menembus 4,21%. Kenaikan ini mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap arah kebijakan moneter global yang masih ketat.
Nilai tukar rupiah pun kembali tertekan. Pada perdagangan pagi ini, rupiah di pasar spot tercatat melemah ke level Rp16.877 per dolar AS, sementara kurs referensi JISDOR berada di Rp16.887. Pelemahan ini terjadi meskipun indeks dolar AS sendiri sedikit melemah, yang seharusnya memberi ruang bagi mata uang negara berkembang.
Pergerakan Pasar Global yang Berbeda Arah
Sementara pasar domestik berjuang, pasar saham global bergerak dengan arah yang tidak seragam. Wall Street justru menunjukkan reli yang sangat kuat pada akhir pekan lalu. Indeks Dow Jones Industrial Average bahkan berhasil menembus level psikologis 50.000 untuk pertama kalinya, didorong oleh rebound saham-saham teknologi.
Pasar Eropa juga mengikuti tren positif, meski dengan kenaikan yang lebih moderat. Namun, sentimen optimisme dari Barat itu tidak menular ke sebagian besar bursa Asia. Selain IHSG, indeks Hang Seng Hong Kong dan Shanghai Composite juga tercatat melemah, meski Nikkei Jepang masih bertahan di zona hijau.
Komoditas sebagai Aset Lindung Nilai
Di tengah ketidakpastian, aset-aset safe haven seperti logam mulia kembali diminati. Harga emas spot melonjak tajam 4,15% mendekati level US$4.964 per troy ounce. Kenaikan signifikan juga terjadi pada harga perak dan tembaga. Di sisi lain, harga minyak mentah jenis WTI dan Brent juga bergerak naik, menandai pemulihan di pasar komoditas energi.
Secara keseluruhan, reli kuat di Wall Street belum cukup untuk mengubah sentimen investor di dalam negeri. Pasar Indonesia masih menghadapi tantangan kompleks, mulai dari tekanan sektor riil, dinamika suku bunga global, hingga pelemahan mata uang yang membatasi apresiasi terhadap aset berisiko dalam jangka pendek. Penguatan di sektor komoditas dan saham syariah mungkin menjadi penanda adanya rotasi aset oleh investor yang mencari peluang di tengah koreksi.
Artikel Terkait
John Herdman Awali Era Baru Timnas Indonesia dengan Target Jangka Panjang Piala Dunia 2030
Batas Pelaporan SPT Tahunan Diperpanjang hingga 30 April 2026
BMKG Prakirakan Hujan Guyur Sebagian Besar Wilayah Indonesia Hari Ini
Polandia dan Denmark Lolos ke Final Play-Off Kualifikasi Piala Dunia 2026