"Akumulasi yang berkelanjutan dan terukur ini, di saat harga global sedang tinggi-tingginya, jelas bukan kebetulan. Ini adalah sinyal upaya untuk memperbaiki komposisi cadangan resmi," ujarnya.
Angkanya memang masih di bawah capaian tiga tahun sebelumnya yang nyaris selalu di atas 1.000 ton. Namun, WGC meyakini permintaan akan tetap tinggi. Emas kian memperkuat perannya dalam lumbung cadangan devisa negara-negara.
Lalu, seberapa besar porsinya untuk China? Menurut Wang, pada akhir 2025 lalu, emas baru menyumbang sekitar 9,7% dari total cadangan resmi China. Angka itu masih jauh di bawah rata-rata global yang berkisar 15%. Artinya, masih ada ruang yang sangat luas untuk menambah.
Itu sebabnya, fluktuasi harga jangka pendek kemungkinan besar tak akan mengubah haluan Beijing. Administrasi Valuta Asing Negara mencatat, cadangan emas China telah mencapai 74,19 juta ons pada akhir Januari 2026. Kenaikan ini adalah lanjutan dari akumulasi bersih 860.000 ons sepanjang tahun 2025.
Pada akhirnya, apa yang dilakukan China ini lebih dari sekadar aksi beli biasa. Menurut WGC, meski bank sentral lain mungkin menyesuaikan tempo pembelian karena harga yang melambung, langkah China terlihat lebih strategis. Ini adalah bagian dari dorongan jangka panjang untuk mendiversifikasi cadangan internasionalnya yang sudah sangat besar. Sebuah pergeseran perlahan, namun pasti.
Artikel Terkait
Menkeu Suntik Rp100 Triliun Tambahan ke Perbankan Jaga Likuiditas Jelang Lebaran
Pemkot Mataram Kaji Wajibkan Pejabat Bersepeda ke Kantor
Ledakan Kedua di Pangkalan Irak Tewaskan 7 Personel, Klinik Militer Turut Dihantam
Contoh Rundown Acara Halalbihalal untuk Keluarga, Kantor, hingga Lingkungan RT