Layanan kereta bandara juga mencatat pertumbuhan signifikan, menunjukkan integrasi moda transportasi yang semakin solid. KA Bandara Adi Soemarmo (KA BIAS) melonjak dari 63.730 menjadi 74.102 pelanggan. Sementara itu, kereta bandara menuju Yogyakarta International Airport (YIA) naik dari 229.716 menjadi 239.331 pelanggan, didukung kehadiran layanan reguler dan ekspres yang memberi fleksibilitas lebih bagi penumpang.
Di sisi lain, layanan komuter menunjukkan vitalitasnya. KRL Yogyakarta–Palur, yang melayani 27 hingga 31 perjalanan harian melalui 11 stasiun, mencatat lonjakan penumpang menjadi 758.375 pada Januari 2026 dari sebelumnya 712.152. Pertumbuhan serupa juga dialami layanan lokal seperti KA Prameks (Yogyakarta–Kutoarjo) dan KA Batara Kresna (Purwosari–Wonogiri PP), yang turut diiringi penambahan frekuensi perjalanan.
Solusi Mobilitas Terintegrasi ke Depan
Peningkatan angka-angka ini bukan sekadar statistik, tetapi gambaran pergeseran preferensi masyarakat. Anne Purba melihat tren ini sebagai indikasi matangnya peran transportasi rel dalam ekosistem mobilitas yang terpadu.
"Kereta api menghadirkan perjalanan yang lebih tertata, nyaman, dan mudah diakses. Dengan layanan yang saling terhubung, kereta api menjadi solusi mobilitas yang relevan untuk berbagai kebutuhan perjalanan masyarakat," ungkapnya.
Dengan kata lain, penguatan layanan ini bukan hanya tentang menambah jumlah gerbong atau jadwal, tetapi tentang membangun konektivitas yang lebih cerdas dan responsif terhadap ritme kehidupan masyarakat di Jawa Tengah dan Yogyakarta.
Artikel Terkait
Arief Catur Pamungkas Siap Perkuat Persebaya Lawan Persita Usai Pulih dari Cedera
Truk Pengangkut Telur Oleng, Tewaskan Pemilik Warung di Subang
TNI Bangun Ulang Jembatan Gumuzo di Nias Utara, Akses Vital Kembali Pulih
Energi Watch: Konversi ke Kompor dan Kendaraan Listrik Bisa Hemat Subsidi Ratusan Miliar