MURIANETWORK.COM - PT Kereta Api Indonesia (Persero) terus memperkuat layanannya di wilayah aglomerasi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, merespons tingginya mobilitas masyarakat untuk aktivitas harian, bisnis, dan pariwisata. Data terbaru menunjukkan tren pertumbuhan penumpang yang konsisten sejak awal tahun, menguatkan peran kereta api sebagai tulang punggung transportasi massal yang andal di kawasan ini.
Merespons Dinamika Mobilitas Kawasan
Peningkatan mobilitas, terutama di akhir pekan dan masa liburan, telah mengubah pola perjalanan masyarakat. Kereta api antarkota, bandara, dan layanan komuter kini semakin menjadi pilihan utama. Anne Purba, Vice President Corporate Communication KAI, menjelaskan fenomena ini sebagai respons terhadap dinamika sosial ekonomi yang hidup di wilayah tersebut.
"Mobilitas masyarakat biasanya meningkat pada akhir pekan dan masa libur, sehingga layanan kereta api antarkota, bandara, dan perkotaan semakin menjadi moda transportasi utama di kawasan tersebut," jelasnya.
Koridor Utama dan Layanan Andalan
Pusat pertumbuhan terlihat jelas di koridor Semarang–Solo–Yogyakarta–Purwokerto. Jalur ini menjadi urat nadi pergerakan yang menghubungkan sentra ekonomi, pendidikan, dan pariwisata. Salah satu layanan andalan, KA Joglosemarkerto, menjadi bukti nyata dengan peningkatan penumpang dari 97.929 pada Januari 2025 menjadi 110.409 di Januari 2026. Kereta ini telah menjadi pilihan favorit keluarga, wisatawan, dan pelaku perjalanan antarwilayah.
Dukungan Konektivitas Bandara dan Komuter
Layanan kereta bandara juga mencatat pertumbuhan signifikan, menunjukkan integrasi moda transportasi yang semakin solid. KA Bandara Adi Soemarmo (KA BIAS) melonjak dari 63.730 menjadi 74.102 pelanggan. Sementara itu, kereta bandara menuju Yogyakarta International Airport (YIA) naik dari 229.716 menjadi 239.331 pelanggan, didukung kehadiran layanan reguler dan ekspres yang memberi fleksibilitas lebih bagi penumpang.
Di sisi lain, layanan komuter menunjukkan vitalitasnya. KRL Yogyakarta–Palur, yang melayani 27 hingga 31 perjalanan harian melalui 11 stasiun, mencatat lonjakan penumpang menjadi 758.375 pada Januari 2026 dari sebelumnya 712.152. Pertumbuhan serupa juga dialami layanan lokal seperti KA Prameks (Yogyakarta–Kutoarjo) dan KA Batara Kresna (Purwosari–Wonogiri PP), yang turut diiringi penambahan frekuensi perjalanan.
Solusi Mobilitas Terintegrasi ke Depan
Peningkatan angka-angka ini bukan sekadar statistik, tetapi gambaran pergeseran preferensi masyarakat. Anne Purba melihat tren ini sebagai indikasi matangnya peran transportasi rel dalam ekosistem mobilitas yang terpadu.
"Kereta api menghadirkan perjalanan yang lebih tertata, nyaman, dan mudah diakses. Dengan layanan yang saling terhubung, kereta api menjadi solusi mobilitas yang relevan untuk berbagai kebutuhan perjalanan masyarakat," ungkapnya.
Dengan kata lain, penguatan layanan ini bukan hanya tentang menambah jumlah gerbong atau jadwal, tetapi tentang membangun konektivitas yang lebih cerdas dan responsif terhadap ritme kehidupan masyarakat di Jawa Tengah dan Yogyakarta.
Artikel Terkait
Prabowo: Islam Indonesia Teladan Damai bagi Dunia
Polisi Selidiki Mahasiswi Unpam Serang Tewas Jatuh dari Lantai Dua Gedung Kampus
Wanita yang Dilaporkan Hilang di Jakbar Ditemukan Bersama Pria di Jaktim
Presiden Prabowo Hadiri Mujahadah Kubro Peringati Satu Abad NU di Malang