Namun begitu, di balik optimisme itu ada bayang-bayang yang mengganggu. Kontroversi utama berkutat pada perisai panas kapsul Orion. Pada misi Artemis I tanpa awak di 2022 lalu, perisai panas berbahan Avcoat itu mengalami kerusakan tak terduga. Potongan-potongan kecilnya terlepas dan meninggalkan bekas hangus yang mengkhawatirkan.
Yang jadi perdebatan, NASA memutuskan untuk tetap menggunakan desain perisai yang sama untuk Artemis II, tanpa uji coba tanpa awak tambahan. Keputusan ini membuat sejumlah ahli, termasuk mantan astronot Charles Camarda, merasa was-was.
NASA punya argumennya sendiri. Mereka menegaskan sudah melakukan modifikasi pada jalur masuk atmosfer, membuatnya lebih singkat untuk mengurangi tekanan pada perisai panas.
"Dari perspektif risiko, kami merasa sangat yakin,"
kata seorang pejabat senior NASA dalam sebuah konferensi pers September 2025 lalu. Mereka berulang kali menekankan bahwa keselamatan awak adalah prioritas nomor satu, meski ketidakpastian dalam penerbangan antariksa memang tak pernah bisa dihilangkan sepenuhnya.
Jadi, semua mata kini tertuju pada awal 2026. Misi yang penuh ambisi ini, dengan segala harapan dan kekhawatirannya, siap menorehkan babak baru dalam petualangan manusia menuju bulan.
Artikel Terkait
Kementerian Kebudayaan Terapkan WFH dan Efisiensi Energi Respons Krisis Global
Pengguna QRIS di Kaltim Tembus 859 Ribu, Transaksi Digital dan Uang Tunai Tumbuh Beriringan
Ambulans di RSUD Kudus Tak Dikenai Tarif Parkir Rp80 Ribu, Hanya Salah Paham
Sirkulasi Uang Tunai Tembus Rp1.370 Triliun Saat Mudik Lebaran 2026