Hasilnya cukup mengkhawatirkan, khususnya bagi N. Tes psikologi mengungkap ia mengalami depresi ringan. Gejalanya jelas: mudah menangis dan punya kebiasaan mengkritik diri sendiri secara berlebihan. Rachmat menyatakan, temuan ini menjadi pijakan untuk menyusun rencana pendampingan jangka panjang.
"Pekerja sosial kami merekomendasikan penguatan motivasi dengan menggali keterampilan yang telah dimiliki korban agar dapat dikembangkan menjadi sumber penghidupan. Korban juga diarahkan mengikuti edukasi manajemen kewirausahaan serta konseling lanjutan secara berkala," jelasnya.
Rachmat menegaskan komitmen pemulihan yang komprehensif. Mulai dari kesehatan mental, pendampingan sosial, hingga menyusun rencana agar mereka bisa kembali berfungsi baik di masyarakat. Prosesnya tak sebentar.
Di sisi lain, Kemensos sudah berkoordinasi dengan IOM Indonesia untuk mempersiapkan pemulangan mereka ke daerah asal. Kolaborasi dengan Sentra dan Sentra Terpadu juga dijalin untuk asesmen lanjutan dan menentukan tindak lanjut yang tepat, tidak hanya untuk korban tapi juga keluarganya.
Dalam keterangannya, N menyampaikan rasa terima kasihnya pada pemerintah dan semua pihak yang membantu. Namun, pesannya untuk masyarakat lain terasa lebih dalam dan penuh kepedihan.
"Tolong jangan tergiur jalur cepat. Pastikan agen penyalur resmi dan legal. Saya tidak ingin ada ibu lain yang mengalami apa yang kami alami," tutupnya.
Sebuah peringatan yang datang dari pengalaman nyata, yang sayangnya, masih terlalu sering terjadi.
Artikel Terkait
Rusia Peringatkan Konsekuensi Serius atas Pembunuhan Pejabat Iran oleh AS-Israel
Menteri dan Sekretaris Kabinet Pantau Arus Balik, Terminal Pulo Gebang Ramai Lancar
Luis Garcia Plaza Resmi Tangani Sevilla dengan Misi Hindari Degradasi
Iran Luncurkan Rudal, 12 Orang Terluka di Israel