JAKARTA – Sejarah punya caranya sendiri untuk menyimpan cerita. Salah satunya tentang mobil mewah Chrysler Crown Imperial yang dihadiahkan Raja Arab Saudi kepada Presiden Soekarno. Mobil itu bukan sekadar hadiah biasa, melainkan saksi bisu dari sebuah peristiwa berdarah: granat Cikini.
Kisah pemberian mobil itu terjadi pada 1955, seperti tercatat dalam buku Total Bung Karno karya Roso Daras. Kala itu, Bung Karno baru saja menunaikan ibadah haji bahkan bertepatan dengan hari suci sehingga disebut Haji Akbar. Saat akan pulang ke Tanah Air, sang Raja menyampaikan sesuatu.
"Presiden Sukarno, mobil Chrysler Crown Imperial ini telah tuan pakai selama berada di sini. Dan sekarang saya menyerahkannya kepada tuan sebagai hadiah."
Dalam hati, Bung Karno sebenarnya sudah mengincar mobil itu. "Sudah tentu aku tidak akan menentang kebiasaan ini," pikirnya, seperti dikutip dari buku tersebut. "Di samping itu, aku memang sudah tertarik pada kendaraan itu sejak aku mulai melihatnya."
Namun begitu, nasib mobil mewah itu tak berjalan mulus. Beberapa tahun kemudian, ia menjadi salah satu 'korban' dalam peristiwa penggranatan di Cikini, Jakarta Pusat. Ledakan itu bukan cuma merusak logam dan mesin, tapi lebih dari itu merenggut nyawa.
"Aku selalu ingat kepada sembilan anak dan seorang perempuan hamil yang jatuh tersungkur tak bernyawa di dekatku," kenang Bung Karno dengan berat. Kenangan kelam itulah yang kemudian mendasari keputusannya di tahun 1963. "Oleh karena itu, tahun 1963 aku membubuhkan tanda tangan menghukum mati Kartosuwirjo. Bukan untuk kepuasan, tetapi demi menegakkan keadilan."
Para pelaku di balik peristiwa Cikini akhirnya dijatuhi hukuman mati. Tapi, rentetan percobaan pembunuhan terhadap Bung Karno ternyata tidak berhenti di situ.
Lantas, apa salahnya? Pertanyaan itu bahkan terucap dari mulut Bung Karno sendiri, seperti ia tuturkan kepada Cindy Adams dalam buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Ia membeberkan serangkaian percobaan nyawa yang dialaminya: mulai dari penembakan pesawat tempur Maukar, upaya pembunuhan saat sholat Idul Adha 1962, pencegatan di Cisalak, hingga penembakan di Makassar. Sebagai Presiden, nyawanya berkali-kali terancam.
"Apa kejahatanku? Mengapa mereka mencoba membunuh Sukarno?" tanyanya.
Pada masa itu, ada satu jawaban yang dianggap masuk akal oleh sebagian kalangan: karena Sukarno dinilai bukan Muslim yang patuh oleh kelompok tertentu. Itulah versi dari kelompok Islam garis keras pimpinan Kartosuwirjo, yang bercita-cita menggulingkan pemerintahan Pancasila dan mendirikan Negara Islam (Darul Islam).
Ironisnya, penyidikan aparat keamanan justru mengarah pada kesimpulan itu. Padahal, dalam banyak catatan sejarah, Bung Karno justru dikenal sebagai seorang muslim yang taat. Sebuah kontradiksi yang menyisakan tanda tanya besar dalam lembaran sejarah bangsa.
Artikel Terkait
Lebih dari 470 Ribu Keluarga Penerima Manfaat Baru Mulai Terima Bansos pada Triwulan II 2026
AS Rilis Ribuan Dokumen Rahasia UFO untuk Publik, Pertama dalam Sejarah
Presiden Prabowo Resmikan Kampung Nelayan Merah Putih di Gorontalo Usai KTT ASEAN
Korban Tewas Ledakan Pabrik Petasan di Hunan Bertambah Jadi 37 Orang, Polisi Tahan Delapan Tersangka