Kondisi ini membuat banyak keluarga belum bisa kembali menempati rumah mereka sendiri. "Tanpa alat berat, warga mandiri berjibaku menyingkirkan lumpur setebal hampir 2 meter secara manual agar rumah dapat kembali dihuni," ungkap seorang sumber di lokasi. "Prosesnya sangat lambat karena tidak ada biaya untuk membayar pekerja," lanjutnya.
Kondisi Mengkhawatirkan di Tempat Pengungsian
Bagi mereka yang rumahnya hancur total, kondisi di tempat pengungsian semakin hari semakin mengkhawatirkan. Puluhan keluarga di Desa Blang Naleng Memeh, Kota Lhokseumawe, masih bertahan di tenda-tenda darurat dengan persediaan logistik yang terus menipis. Harapan akan pembangunan hunian sementara yang layak menjadi satu-satunya penopang semangat mereka.
Rentan terhadap penyakit, kelompok lansia dan anak-anak di pengungsian mulai menunjukkan gejala kesehatan yang mengkhawatirkan. "Kini, mereka kekurangan bahan makanan dan obat-obatan. Lansia serta anak-anak mulai terserang batuk, demam, dan penyakit akibat debu halus," jelas laporan dari lapangan. Situasi ini mempertegas urgensi penanganan yang lebih cepat dan komprehensif, tidak hanya untuk membangun kembali infrastruktur, tetapi juga memulihkan kesehatan dan martabat para penyintas.
Artikel Terkait
Menkominfo Pastikan Layanan Internet Stabil Selama Arus Balik Lebaran 2026
Korlantas Perpanjang Skema One Way Arus Balik Hingga Km 459 Tol Semarang-Solo
Kapolresta Bandung Turun Langsung Atasi Macet Parah di Wisata Pacira Saat Lebaran
BPKH Lepas 675 Peserta Program Angkutan Gratis Balik Kerja di Surabaya