Perjanjian New START yang mengatur senjata nuklir strategis antara Amerika Serikat dan Rusia sudah berakhir. Masa berlakunya habis tepat pada Kamis (5/2) waktu setempat, setelah kedua negara gagal mencapai kesepakatan perpanjangan.
Namun begitu, tampaknya jalan dialog belum sepenuhnya tertutup. Dari Gedung Putih, pemerintahan Presiden Donald Trump menyatakan rencana untuk terus bernegosiasi dengan Moskow. Tujuannya? Menyusun sebuah perjanjian baru yang bisa menggantikan New START.
Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengonfirmasi hal ini kepada media. Pernyataannya dikutip oleh kantor berita Rusia, TASS, pada Jumat (6/2/2026).
"Presiden (Trump) menginginkan para ahli nuklir kita mengerjakan perjanjian baru yang lebih baik dan dimodernisasi yang dapat bertahan lama di masa depan," ujar Leavitt.
"Dan itulah yang akan terus didiskusikan oleh Amerika Serikat dengan Rusia," tegasnya.
Artikel Terkait
Pendiri OnlyFans Leonid Radvinsky Meninggal Dunia Setelah Berjuang Melawan Kanker
Netanyahu dan Trump Bahas Kesepakatan Baru Usai Operasi Militer di Iran
Arsenal Kehilangan Lima Pemain Inti untuk Jeda Internasional Akibat Cedera
Revisi UU Pemda 2026 Dinanti Jadi Momentum Perbaiki Hubungan Pusat-Daerah