MURIANETWORK.COM - Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menyerukan revitalisasi gerakan 'peduli tetangga' di tengah masyarakat dan pemerintah daerah. Ajakan ini disampaikan sebagai respons atas tragedi meninggalnya seorang siswa SD di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang diduga karena orang tuanya tak mampu membeli perlengkapan sekolah. Gus Ipul menekankan pentingnya kepekaan sosial untuk mencegah keluarga yang mengalami kesulitan ekstrem luput dari perhatian lingkungan sekitarnya.
Ajakan Peduli Tetangga Pasca Tragedi NTT
Dialog dengan awak media berlangsung di Selalu Ada Kopi, Kantor Kementerian Sosial, Jakarta Pusat, Kamis (5/2/2026). Dalam kesempatan itu, Gus Ipul menyampaikan keprihatinan mendalam sekaligus ajakan kolektif. Suasana ruang dialog yang hangat tak menyurutkan pesan serius yang disampaikan.
"Kita turut berduka dan sungguh-sungguh prihatin. Ini jadi pembelajaran buat kita semua. Jangan sampai ada tetangga yang kesulitan, tapi kita tidak tahu. Ada keluarga-keluarga yang penderitaannya luput oleh kita," ungkap Gus Ipul dalam keterangan tertulisnya.
"Maka saya mengajak kita semua, baik pemerintah daerah dan masyarakat, ini saat yang baik di awal tahun kita memulai suatu gerakan peduli tetangga. Mari kita peduli kepada sekitar kita, jangan sampai luput dari perhatian kita jika ada keluarga-keluarga yang sesungguhnya membutuhkan bantuan kita," imbuhnya.
Pusaran Data dan Tantangan Akurasi
Di balik tragedi tersebut, Gus Ipul melihat persoalan mendasar terkait akurasi data perlindungan sosial. Selama ini, data masih tersebar di berbagai kementerian dan lembaga, menyebabkan intervensi pemerintah kerap tidak terintegrasi dan kurang tepat sasaran. Kondisi ini, menurutnya, menjadi fokus perbaikan utama.
"Dulu data kita belum akurat, sehingga intervensi kita juga belum akurat, belum sepenuhnya tepat sasaran. Karena itu Presiden Prabowo sedari awal menjabat itu memerintahkan konsolidasi data," jelas Gus Ipul.
Upaya konsolidasi itu kini berpayung pada Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 4 Tahun 2025, yang menjadi dasar penguatan Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN). Pengelolaan data diperkuat dan dimutakhirkan bersama Badan Pusat Statistik (BPS) dengan dukungan kementerian/lembaga serta pemerintah daerah secara berkala.
Namun, Gus Ipul mengakui bahwa pembenahan data bukan pekerjaan mudah mengingat dinamika kependudukan dan kondisi sosial-ekonomi yang berubah cepat. Setiap hari terjadi peristiwa yang dapat mengubah status kepantasan seseorang menerima bantuan.
"Ini baru pertama kalinya kita punya upaya data tunggal yang benar-benar kita konsolidasikan. Maka perlu kerja keras untuk data ini terus dimutakhirkan," tegasnya.
Artikel Terkait
Filipina Izinkan Sementara Bahan Bakar Euro-II untuk Jaga Stok di Tengah Krisis
MAKI Pertanyakan Perbedaan Perlakuan KPK pada Penahanan Yaqut dan Lukas Enembe
Dua Prajurit Marinir Gugur Disergap Kelompok Bersenjata di Maybrat
Polisi Terapkan Sistem Satu Arah dari Puncak ke Jakarta, Arus Naik Padat