MURIANETWORK.COM - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem untuk tiga provinsi di Indonesia menyusul pembentukan siklon tropis PENHA di Samudra Pasifik. Sistem tekanan rendah yang sebelumnya dipantau sebagai bibit siklon 94W ini telah meningkat intensitasnya dan meski bergerak menjauhi wilayah Indonesia, dampak tidak langsungnya diperkirakan akan mempengaruhi kondisi cuaca, gelombang laut, dan angin di beberapa daerah dalam 24 jam ke depan.
Perkembangan dan Pergerakan Siklon PENHA
Berdasarkan pemantauan terus-menerus, siklon tropis PENHA resmi terbentuk dari bibit siklon 94W yang pertama kali terpantau berkembang pada 2 Februari 2026. Dalam kurun waktu lebih dari dua hari, sistem tersebut menguat hingga mencapai status siklon tropis pada 4 Februari 2026 malam.
Analisis terkini menempatkan posisi siklon ini di perairan Laut Filipina, tepatnya di sebelah utara Maluku Utara. Dengan kecepatan gerak sekitar 11 knot, siklon tersebut bergerak ke arah barat daya dan semakin menjauh dari teritorial Indonesia. Saat ini, kekuatannya tercatat pada kategori 1 dengan kecepatan angin maksimum 35 knot atau setara 65 kilometer per jam dan tekanan pusat 1.000 hPa.
Prakirawan memperkirakan intensitas siklon PENHA akan konsisten berada pada kategori 1 setidaknya untuk 24 jam ke depan. Meski pusat badannya tidak melintasi Indonesia, interaksi siklon dengan pola angin dan tekanan di sekitarnya berpotensi menimbulkan gangguan cuaca signifikan di beberapa wilayah.
Dampak Tidak Langsung terhadap Cuaca Indonesia
Keberadaan siklon tropis di sekitar wilayah tanggung jawab pengawasan BMKG selalu menjadi perhatian serius. Dalam rilis resminya, lembaga tersebut mengingatkan bahwa fenomena ini akan memberikan dampak tidak langsung terhadap kondisi atmosfer dan perairan di Indonesia.
“Siklon tropis PENHA berkembang dari bibit siklon tropis 94W yang tumbuh sejak 2 Februari 2026 pukul 13.00 WIB di Samudra Pasifik sebelah utara Papua dan mencapai intensitas siklon tropis pada 4 Februari 2026 pukul 19.00 WIB,” jelas BMKG dalam keterangan tertulisnya, Kamis (5/2/2026).
Peringatan ini dikeluarkan berdasarkan model prediksi dan analisis data satelit serta observasi permukaan, yang menunjukkan pola peningkatan aktivitas awan hujan dan kecepatan angin di sejumlah daerah.
Wilayah yang Berpotensi Terdampak
BMKG memetakan sejumlah wilayah yang perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem, gelombang tinggi, dan angin kencang hingga Jumat (6/2/2026). Masyarakat, khususnya pelaku aktivitas maritim dan yang tinggal di daerah rawan, diimbau untuk selalu memperbarui informasi dari sumber resmi.
Potensi Cuaca Ekstrem (Hujan Lebat Disertai Kilat/Angin Kencang)
Provinsi-provinsi yang berpeluang mengalami cuaca ekstrem adalah Maluku Utara, Sulawesi Utara, dan Gorontalo. Kondisi ini dapat memicu genangan, banjir bandang, atau tanah longsor di daerah bertekstur lereng.
Peringatan Gelombang Tinggi (1.25 - 2.5 meter)
Kondisi laut yang berpotensi membahayakan keselamatan pelayaran diperkirakan terjadi di beberapa perairan, antara lain Samudra Pasifik utara Biak, Papua Barat, Halmahera (bagian utara dan selatan), serta Jayapura. Selain itu, Laut Halmahera, perairan Kepulauan Sangihe dan Talaud, serta Laut Sulawesi bagian timur juga perlu diwaspadai.
Potensi Angin Kencang
Secara spesifik, wilayah Sulawesi Utara juga mendapatkan peringatan untuk kemungkinan terjadinya angin kencang yang dapat merusak infrastruktur temporer dan mengganggu aktivitas masyarakat.
Artikel Terkait
Menteri Sosial Tegaskan RS Dilarang Tolak Pasien BPJS PBI yang Dinonaktifkan
KPK Tangkap Hakim di Depok dalam Operasi Tangkap Tangan
Mensos Gus Ipul Serukan Revitalisasi Gerakan Peduli Tetangga Pasca Tragedi Siswa SD di NTT
PM Albanese Tiba di Jakarta, Siap Teken Traktat Keamanan Bersama dengan Indonesia