MURIANETWORK.COM - Sebanyak 70 anak diduga terpapar ideologi kekerasan ekstrem melalui grup komunitas daring True Crime Community (TCC). Temuan ini muncul setelah Densus 88 Antiteror Polri mengungkap keterkaitan dua pelaku aksi kekerasan di sekolah di Jakarta dan Kalimantan Barat dengan komunitas online tersebut. Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI, Singgih Januratmoko, menyatakan keprihatinan mendalam dan menyerukan peringatan serius bagi semua pihak terkait perlindungan anak di ruang digital.
Peringatan Serius di Ruang Digital
Menanggapi temuan tersebut, Singgih Januratmoko menekankan bahwa kasus ini bukanlah persoalan biasa, melainkan alarm nasional. Ia melihat hal ini sebagai indikasi rapuhnya sistem perlindungan anak di dunia maya, yang memerlukan respons segera dan komprehensif dari berbagai elemen masyarakat.
"Kasus 70 anak yang terpapar TCC ini bukan persoalan biasa. Ini adalah alarm nasional tentang rapuhnya perlindungan anak kita di ruang digital. Anak-anak berada pada fase perkembangan psikologis yang sangat mudah terpengaruh, sehingga paparan konten kekerasan berpotensi membentuk pola pikir dan perilaku yang menyimpang," ungkap Singgih kepada wartawan, Kamis (5/2/2026).
Peran Sentral Keluarga dan Sekolah
Menurut politisi dari Fraksi Golkar ini, orang tua memegang peran kunci sebagai garda terdepan. Ia menilai pengawasan tidak boleh hanya bersifat teknis, seperti memberikan gawai, tetapi harus mencakup pendampingan yang utuh dan komunikasi yang intensif.
"Orang tua harus hadir secara utuh, bukan hanya menyediakan fasilitas, tetapi juga mendampingi. Mengetahui apa yang ditonton anak, dengan siapa mereka berinteraksi di media sosial, dan apa yang mereka diskusikan di ruang digital adalah bagian dari tanggung jawab bersama," tegasnya.
Di sisi lain, lembaga pendidikan juga dituntut untuk lebih peka. Singgih berpendapat, sekolah harus mampu menjadi tempat yang mendeteksi perubahan perilaku siswa lebih dini. Penguatan pendidikan karakter dan literasi digital yang sehat, menurutnya, menjadi pilar penting pencegahan.
"Sekolah harus mampu mendeteksi gejala dini perubahan perilaku anak, memperkuat pendidikan karakter, serta membangun literasi digital yang sehat. Guru dan konselor perlu dibekali kemampuan untuk membaca tanda-tanda anak yang mulai terpapar konten berbahaya," jelasnya.
Artikel Terkait
Gunung Ibu Erupsi, Luncurkan Kolom Abu 600 Meter
Remaja 14 Tahun Tewas Terseret Arus di Pantai Karangnaya Sukabumi
Polres Tangerang Kota Gencar Patroli Rumah Kosong Saat Arus Mudik Lebaran
Prabowo Lakukan Silaturahmi Telepon dengan Sejumlah Pemimpin Negara Muslim