Mengacu pada kronologi kejadian memilukan di Ngada, Lalu Hadrian menyoroti titik kritisnya. Menurutnya, bantuan Program Indonesia Pintar (PIP) sebenarnya telah dialokasikan, namun proses penyalurannya ke penerima manfaat yang bermasalah.
"Sebenarnya kalau kita baca kronologis dari peristiwa yang ada di NTT, itu sebenarnya kan PIP-nya sudah masuk, tetapi penyalurannya yang belum maksimal," jelasnya.
"Kita cari sekarang kenapa penyaluran ini tidak maksimal, tidak bisa, sehingga anak menjadi frustrasi karena keterbatasan ekonomi," lanjut Lalu, menyiratkan urgensi untuk menelusuri hambatan birokrasi di tingkat lapangan.
Ia menekankan perlunya kolaborasi erat antara pemerintah daerah, sekolah, dan keluarga. Pemerintah daerah diminta memastikan bahwa program sekolah rakyat benar-benar menyentuh keluarga miskin yang menjadi sasaran utamanya.
"Pemerintah Daerah Kabupaten Ngada bersama Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur memastikan, bahwa sekolah rakyat yang hari ini diperuntukkan bagi warga miskin, bagi anak-anak yang tergolong dalam keluarga miskin, harus betul-betul bisa dimanfaatkan dalam rangka menuntaskan itu tadi," tuturnya.
Surat Perpisahan yang Menyayat Hati
Sebelumnya, investigasi kepolisian mengungkap temuan yang memperjelas latar belakang duka ini. Saat mengevakuasi jenazah YBR (10), siswa kelas IV SD tersebut, polisi menemukan sepucuk surat tulisan tangan. Surat yang ditulis dalam bahasa daerah Bajawa itu berisi ungkapan perpisahan sekaligus kekecewaan mendalam sang anak kepada ibunya, yang disebutnya pelit. Temuan surat ini memberikan gambaran suram tentang beban psikologis yang dipikul korban sebelum memutuskan untuk gantung diri.
Artikel Terkait
Korlantas Imbau Pemudik Hindari Puncak Arus Balik 24 Maret, Sistem One Way Bisa Diperpanjang
Iran Balas Ultimatum Trump dengan Sindiran Youre Fired dan Klaim Serangan Rudal
Mendagri: Pengungsi Bencana Sumatera Hampir 100 Persen Tak Lagi di Tenda
Remaja Tewas Terseret Ombak di Pantai Karangbolong Usai Selamatkan Adik