Namun begitu, pendampingan BRI mengubah banyak hal. Mereka fokus pada solusi untuk masalah paling mendasar: ketergantungan pada musim. Sejak 2013, klaster Panaba mulai berinovasi dengan pemanfaatan lampu untuk mengatur siklus produksi buah naga. Hasilnya? Produksi jadi lebih konsisten, kualitas panen pun meningkat.
Dukungannya tak berhenti di situ. BRI juga mendatangkan pakar untuk pelatihan langsung, mempermudah akses pinjaman, dan mendukung kegiatan klaster lainnya. Edy bilang, proses peminjaman modal jadi lebih sederhana.
"Kalau petani sudah punya tanaman buah naga, proses pinjamannya tidak ribet dan tidak perlu agunan yang sulit," katanya.
Yang paling terasa, menurut Edy, adalah dampaknya pada mental para petani. Rasa percaya diri mereka tumbuh.
"Dengan adanya pendampingan dari BRI ini, petani jadi lebih yakin dan lebih berani untuk mengembangkan usaha buah naganya," tuturnya. "Petani tidak jalan sendiri."
Itulah kuncinya. Ketika UMKM tidak merasa berjuang sendirian, lompatan untuk naik kelas bukan lagi sekadar wacana.
Artikel Terkait
Delapan Ruas Utama Jakarta Siap Dialihkan Sambut PM Australia
Kemenimipas Siapkan 2.460 Titik Kerja Sosial Gantikan Jeruji Besi
Trump Kritik Ekspresi Wartawati Saat Ditanya Soal Kasus Epstein
Prabowo Soroti Hilangnya Rumah Radio Bung Tomo, Ahli Sebut Keteledoran Kolektif