Pertemuan itu dipertemukan oleh Kapten Iskak, pimpinan seksi hiburan radio tersebut. Dan rupanya, jodoh itu diterima dengan baik.
“Hubungan keduanya berlanjut ke jenjang pernikahan pada tanggal 31 Oktober 1946 di Yogyakarta,” tulis Suhartono dalam buku ‘HOEGENG, POLISI DAN MENTERI TELADAN’, yang diangkat dari kisah mantan sekretaris Hoegeng.
Dari pernikahan itu, lahirlah tiga anak: Renny Soerjanti Hoegeng, Aditya Soetanto Hoegeng (Didit), dan Sri Pamujining Rahayu.
Buku itu juga mengungkap sisi lain kehidupan rumah tangga mereka. Hoegeng dikenal sebagai sosok yang sangat menghargai istrinya. Meski pernah menjabat sebagai Menteri/Sekretaris Presidium Kabinet di tahun 1966, ia punya kebiasaan unik: tak pernah makan siang di kantor. Ia hanya minum teh hangat.
Alasannya sederhana dan sangat personal. Sebagai orang Jawa yang memegang teguh adat, Hoegeng merasa harus menghargai setiap masakan yang disiapkan sang istri di rumah. Baginya, itu adalah bentuk komitmen dan kasih sayang.
Kini, setelah berpuluh tahun mendampingi sang legenda polisi yang jujur, Eyang Meri akhirnya kembali kepangkuan suaminya. Di Giri Tama, mereka bersatu kembali, meninggalkan kisah kesetiaan yang jauh lebih berharga dari sekadar jabatan.
Artikel Terkait
Tiga Aplikasi Diblokir Pemerintah Gara-gara Ogah Daftar
Modus Baru Narkoba: Etomidate Diselundupkan Lewat Cartridge Vape
Mantan Suami Pertama Jill Biden Ditangkap atas Dugaan Pembunuhan Isteri
Kapolri Ziarah ke Makam Eyang Meri, Warisan Integritas Hoegeng Tetap Bergema