Di bawah langit Bogor yang sedikit mendung, iring-iringan mobil melambat memasuki gerbang Makam Giri Tama, Tajurhalang. Mereka membawa sosok yang sangat dikasihi: Meriyati Hoegeng, atau yang akrab disapa Eyang Meri, istri mendiang Kapolri ke-5 Hoegeng Iman Santoso. Rabu siang itu, dia akan beristirahat untuk selamanya di samping sang suami.
Suasana hening, tapi hangat. Di antara pelayat, terlihat sejumlah wajah petinggi Polri yang turut mengiringi. Keluarga dekat tampak memegang erat satu sama lain, mengikuti langkah terakhir jenazah yang dibawa dari mobil menuju liang lahat. Prosesinya berlangsung khidmat, tanpa banyak kata.
Sebelumnya, Eyang Meri berpulang pada Selasa (3/2) siang, tepat pukul 13.25 WIB. Ia sempat dirawat intensif di RS Bhayangkara Polri, Kramat Jati. Usianya sudah lanjut, 100 tahun. Jenazahnya sempat disemayamkan di Pesona Khayangan, Depok, sebelum akhirnya dibawa ke Bogor.
Perjalanan hidupnya panjang. Lahir di Pekalongan, 23 Juni 1925, dari pasangan Soemakno Martokoesoemo dan Jeanne Reyneke van Stuwe. Pertemuannya dengan Hoegeng punya cerita sendiri, yang bahkan sempat dibukukan.
Pertemuan Dua Hati di Masa Revolusi
Kisah mereka berawal dari sebuah perjodohan. Bukan yang kaku, tapi justru penuh warna. Saat itu, Hoegeng masih berpangkat mayor di Angkatan Laut bertugas di Yogyakarta. Sementara Meri, gadis Pekalongan yang bersuara merdu, bekerja sebagai penyiar di Radio Aldo militer.
Artikel Terkait
Di Balik Canda Purnabakti Arief Hidayat: Kisah Ajakan yang Mengubah Takdirnya di MK
Ketua Komisi VII Soroti Menteri Pariwisata: Jawaban Harusnya di Rapat, Bukan di Medsos
Ribuan Cacahan Uang Serbu TPA Liar di Bekasi, Asal-Usulnya Masih Misteri
Beban Keluarga Picu Siswa SMP Bawa Bom Molotov ke Sekolah