Eyang Meri Beristirahat di Samping Hoegeng, Kisah Setia di Balik Legenda Polisi

- Rabu, 04 Februari 2026 | 11:45 WIB
Eyang Meri Beristirahat di Samping Hoegeng, Kisah Setia di Balik Legenda Polisi

Di bawah langit Bogor yang sedikit mendung, iring-iringan mobil melambat memasuki gerbang Makam Giri Tama, Tajurhalang. Mereka membawa sosok yang sangat dikasihi: Meriyati Hoegeng, atau yang akrab disapa Eyang Meri, istri mendiang Kapolri ke-5 Hoegeng Iman Santoso. Rabu siang itu, dia akan beristirahat untuk selamanya di samping sang suami.

Suasana hening, tapi hangat. Di antara pelayat, terlihat sejumlah wajah petinggi Polri yang turut mengiringi. Keluarga dekat tampak memegang erat satu sama lain, mengikuti langkah terakhir jenazah yang dibawa dari mobil menuju liang lahat. Prosesinya berlangsung khidmat, tanpa banyak kata.

Sebelumnya, Eyang Meri berpulang pada Selasa (3/2) siang, tepat pukul 13.25 WIB. Ia sempat dirawat intensif di RS Bhayangkara Polri, Kramat Jati. Usianya sudah lanjut, 100 tahun. Jenazahnya sempat disemayamkan di Pesona Khayangan, Depok, sebelum akhirnya dibawa ke Bogor.

Perjalanan hidupnya panjang. Lahir di Pekalongan, 23 Juni 1925, dari pasangan Soemakno Martokoesoemo dan Jeanne Reyneke van Stuwe. Pertemuannya dengan Hoegeng punya cerita sendiri, yang bahkan sempat dibukukan.

Pertemuan Dua Hati di Masa Revolusi

Kisah mereka berawal dari sebuah perjodohan. Bukan yang kaku, tapi justru penuh warna. Saat itu, Hoegeng masih berpangkat mayor di Angkatan Laut bertugas di Yogyakarta. Sementara Meri, gadis Pekalongan yang bersuara merdu, bekerja sebagai penyiar di Radio Aldo militer.

Pertemuan itu dipertemukan oleh Kapten Iskak, pimpinan seksi hiburan radio tersebut. Dan rupanya, jodoh itu diterima dengan baik.

“Hubungan keduanya berlanjut ke jenjang pernikahan pada tanggal 31 Oktober 1946 di Yogyakarta,” tulis Suhartono dalam buku ‘HOEGENG, POLISI DAN MENTERI TELADAN’, yang diangkat dari kisah mantan sekretaris Hoegeng.

Dari pernikahan itu, lahirlah tiga anak: Renny Soerjanti Hoegeng, Aditya Soetanto Hoegeng (Didit), dan Sri Pamujining Rahayu.

Buku itu juga mengungkap sisi lain kehidupan rumah tangga mereka. Hoegeng dikenal sebagai sosok yang sangat menghargai istrinya. Meski pernah menjabat sebagai Menteri/Sekretaris Presidium Kabinet di tahun 1966, ia punya kebiasaan unik: tak pernah makan siang di kantor. Ia hanya minum teh hangat.

Alasannya sederhana dan sangat personal. Sebagai orang Jawa yang memegang teguh adat, Hoegeng merasa harus menghargai setiap masakan yang disiapkan sang istri di rumah. Baginya, itu adalah bentuk komitmen dan kasih sayang.

Kini, setelah berpuluh tahun mendampingi sang legenda polisi yang jujur, Eyang Meri akhirnya kembali kepangkuan suaminya. Di Giri Tama, mereka bersatu kembali, meninggalkan kisah kesetiaan yang jauh lebih berharga dari sekadar jabatan.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar