Ia melanjutkan, poin data ini krusial. Menurutnya, dengan data yang baik, jangkauan program perlindungan dan pemberdayaan akan lebih tepat sasaran. “Ini sungguh-sungguh menjadi perhatian kita bersama,” sambung Gus Ipul, menutup penjelasannya.
Kembali ke tragedinya, korban adalah seorang siswa kelas IV SD berinisial YBR. Ia ditemukan meninggal di sebuah pohon pada akhir Januari lalu. Saat mengevakuasi, polisi menemukan sepucuk surat berbahasa Bajawa yang ditulis tangan. Surat itu ditujukan untuk sang ibu.
Hingga kini, penyelidikan masih berjalan. Polisi mendalami semua kemungkinan, termasuk laporan bahwa korban sempat kecewa lantaran tak dibelikan alat tulis oleh ibunya. Kondisi ekonomi keluarga disebut-sebut menjadi kendala utamanya. Sebuah cerita pilu yang meninggalkan banyak tanda tanya dan kepedihan.
Artikel Terkait
Haru di Makam Giri Tama, Eyang Meri Beristirahat di Samping Sang Kapolri
KPK Periksa Ratusan ASN Pati, Telusuri Aliran Uang Tarif Jabatan Desa
Netanyahu Tegaskan: Tak Ada Tempat bagi Otoritas Palestina di Gaza Pasca-Perang
Kesurupan Massal di SMPN Tabanan Diduga Dipicu Pelanggaran Aturan Adat