Presiden Prabowo Subianto baru-baru ini mempertanyakan keberadaan Rumah Radio Bung Tomo. Tempat bersejarah itu, dulu jadi corong semangat perlawanan di Surabaya, kini cuma tinggal cerita. Ya, benar-benar tinggal kenangan.
Kalau kamu lewat Jalan Mawar Nomor 10 di Surabaya sekarang, jangan harap bisa melihat sisa-sisa kejayaannya. Pantauan di lokasi menunjukkan situasi yang cukup memilukan. Bangunan barunya bercat putih, pagarnya tinggi kokoh berwarna coklat dengan ujung-ujung yang runcing. Dari jalan, cuma atap dan bagian atas rumah yang bisa dilihat. Sunyi dan tertutup rapat.
Yang menyedihkan, tak ada secuil pun penanda sejarah. Nomor rumah saja tak tampak, apalagi plakat cagar budaya. Padahal, di sinilah dulu Bung Tomo dan kawan-kawan dari Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia (BPRI) berjuang. Mereka menyalakan api perlawanan lewat sebuah pemancar radio mobile kurang lebih sebesar kulkas untuk membakar semangat arek-arek Suroboyo.
Menurut catatan, rumah ini sempat jadi markas sebelum akhirnya diketahui musuh. Masa penggunaannya memang singkat, kurang dari sebulan. Tapi perannya tak bisa dianggap remeh.
Artikel Terkait
Megawati Bicara di Abu Dhabi: Gotong Royong Kunci Redam Konflik Horizontal
Megawati: Perempuan Tak Perlu Terjebak Dilema Palsu antara Rumah dan Masyarakat
Megawati: Perempuan Tak Perlu Terjebak Pilihan antara Rumah dan Masyarakat
PUI Apresiasi Sikap Tegas Prabowo Soal Palestina di Tengah Dinamika Global