Menurutnya, ide fraksi gabungan untuk partai mini itu terdengar bagus di atas kertas, tapi bakal ruwet di lapangan. “Ini akan menyulitkan praktik politiknya,” tegasnya.
Bayangkan saja, partai-partai dengan ideologi dan watak yang berbeda-beda dipaksa ‘kawin paksa’ dalam satu fraksi. Latar belakang mereka kan beragam, mengingat Indonesia ini negara multikultural. Koalisasi ala kadarnya seperti itu lebih gampang diterapkan di negara yang budayanya homogen. Sementara di kita? Bisa-bisa malah buntu sendiri, deadlock terus di internal fraksi gabungan.
Di sisi lain, Said berargumen bahwa keberadaan PT justru punya dampak positif. Syarat itu bisa mendorong konsolidasi demokrasi di parlemen agar lebih efektif, terutama saat mengambil keputusan-keputusan politik yang krusial.
“Muara akhirnya, stabilitas pemerintahan dan politik lebih terjamin,” kata dia menegaskan.
Jadi, bagi PDIP, PT bukan sekadar penghalang. Itu adalah alat untuk merapikan koalisi dan mencegah kebuntuan di kemudian hari. Debat antara yang pro dan kontra tampaknya masih akan panjang.
Artikel Terkait
Trump Siapkan Serangan, Iran Ancang-ancang Balas: 7 Skenario Perang yang Bisa Mengguncang Dunia
Seribu Toren Air Gratis untuk Warga Jakarta yang Kesulitan Air Bersih
Vonislah Sudah: 18 Tahun Penjara untuk Imam Hidayat, Pembunuh yang Mencor Jasad Pacar
GPII Dukung Polri Tetap di Bawah Presiden, Ini Argumennya