Trump Tuduh Iran Gunakan AI untuk Rekayasa Dukungan Publik

- Selasa, 17 Maret 2026 | 08:15 WIB
Trump Tuduh Iran Gunakan AI untuk Rekayasa Dukungan Publik

Dari dalam Air Force One yang melintasi langit, Presiden AS Donald Trump kembali melontarkan tuduhan mengejutkan. Kali ini, sasarannya adalah Iran. Menurut Trump, negara itu diduga memanfaatkan kecerdasan buatan untuk menciptakan narasi palsu soal kemenangan militernya di medan perang.

Namun begitu, klaim itu dilontarkan tanpa disertai bukti konkret sama sekali. Trump berbicara kepada awak media pada Minggu, 15 Maret 2026.

“AI bisa sangat berbahaya, kita harus sangat berhati-hati dengannya,”

kata Trump, seperti dikutip dari laporan PressTV sehari kemudian. Peringatannya tentang penyalahgunaan teknologi terasa keras, meski tuduhan utamanya tetap menggantung.

Sebelumnya, lewat unggahan di Truth Social, mantan presiden itu sudah lebih dulu menyerang. Ia menuduh sejumlah media Barat berkolaborasi dengan Tehran menyebarkan "berita palsu" yang diklaimnya dibuat dengan AI. Salah satu targetnya adalah gambar yang viral, menunjukkan sekitar 250.000 orang memadati jalanan Teheran untuk mendukung pemimpin baru Revolusi Islam, Ayatollah Seyyed Mojtaba Khamenei.

Menurut Trump, kerumunan massa itu ilusi belaka hasil rekayasa algoritma. Acaranya, katanya, tak pernah benar-benar terjadi.

Di sisi lain, klaim Trump itu bertolak belakang dengan laporan sejumlah media internasional. Mereka telah mempublikasikan foto-foto aksi dukungan publik itu, yang digelar usai penunjukan Mojtaba Khamenei. Aksi itu, oleh banyak pihak, dilihat sebagai bentuk solidaritas warga Iran di tengah konflik yang memanas.

Konflik sendiri sudah memuncak sejak akhir Februari lalu. Saat itu, AS dan Israel melancarkan serangan militer ke sejumlah target di Tehran. Serangan itu merenggut nyawa pemimpin Revolusi Islam sebelumnya, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei, plus beberapa pejabat militer senior Iran.

Balasannya tidak lama. Iran membalas dengan meluncurkan hujan rudal dan drone ke wilayah Israel serta pangkalan militer AS di kawasan. Situasi pun kian tegang.

Pejabat Iran bersikukuh bahwa serangan balasan mereka adalah wajar. Mereka menyebutnya sebagai bentuk "pembelaan diri yang sah." Argumen hukumnya mengacu pada Pasal 51 Piagam PBB, yang memberikan hak bagi suatu negara untuk mempertahankan diri dari agresi. Bagi Iran, tindakan AS dan Israel itulah yang memulai segalanya.

Jadi, di tengah perang sesungguhnya yang melibatkan rudal dan drone, perang narasi juga berkecamuk. Satu pihak menuduh penggunaan AI untuk membangun opini, sementara pihak lain membantah dan menunjukkan bukti visual. Yang jelas, ketegangan di Teluk Persia belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar