Di ruang sidang Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis lalu, suasana tegang sempat menyergap. Feri Marliansyah, seorang staf administrasi dari PT Maju Mapan Melayani, dengan suara yang jelas mengakui sesuatu: ia merasa ditekan. Tekanan itu datang dari salah seorang terdakwa dalam kasus korupsi pengurusan izin tenaga kerja asing di Kemnaker.
Menurut kesaksiannya, Feri diminta atau lebih tepatnya didesak untuk menyampaikan pesan kepada bosnya. Isinya sederhana sekaligus mengejutkan: segera penuhi permintaan uang senilai Rp 2 miliar terkait pengurusan izin TKA tersebut.
“Benar, Pak,” jawab Feri ringkas saat diperiksa jaksa.
Delapan orang duduk sebagai terdakwa dalam perkara besar ini. Mereka bukan nama sembarangan; sebagian adalah pejabat yang pernah bertugas di lingkungan Direktorat Pengendalian Penggunaan Tenaga Kerja Asing (PPTKA) Kemnaker dari tahun 2017 hingga 2025. Daftarnya meliputi Putri Citra Wahyoe, Jamal Shodiqin, Alfa Eshad, Suhartono yang pernah menjabat Dirjen, lalu Haryanto, Wisnu Pramono, Devi Angraeni, serta Gatot Widiartono.
Nah, terkait tekanan yang disebutkan Feri, fokusnya ada pada Gatot Widiartono. Bos Feri, Jason Immanuel Gabriel, disebut-sebut sulit dihubungi oleh Gatot. Maka, perantaraannya pun melalui Feri.
Jaksa kemudian membacakan kutipan dari Berita Acara Pemeriksaan (BAP) Feri. Isinya detail.
Feri membenarkan semua itu.
Artikel Terkait
Polri Bentuk Tim Gabungan Usut Penyegelan Air Keras ke Aktivis KontraS
Prabowo Tegaskan Batas Defisit Anggaran 3% PDB Tak Diubah Kecuali Darurat Besar
Kapolda Metro Jaya Jamin Transparansi Penyelidikan Kasus Penyiraman Air Keras ke Aktivis KontraS
Kapolda Metro Jaya Tegaskan Penyelidikan Penyiraman KontraS Gunakan Metode Ilmiah