Dan masukan itu pun mengalir. FGD itu sendiri memang dirancang sebagai wadah partisipatif. Suara dari lapangan terdengar jelas. Musisi asal Gorontalo, Echo Show, misalnya, mengusulkan perlunya sebuah "rumah" untuk musik Indonesia Timur, terutama dalam hal pengelompokan genre.
Sementara dari Ambon, Hany Patikawa punya ide lain. Ia mengusulkan adanya malam penghargaan khusus bagi musisi kawasan Timur, dengan identitas dan penamaan yang khas.
Menanggapi usulan-usulan itu, Giring Ganesha menegaskan peran negara sebagai fasilitator. Ia terbuka dengan kemungkinan terbentuknya genre baru.
Dukungan lebih lanjut, menurutnya, akan diwujudkan melalui program Manajemen Talenta Nasional. Program ini dirancang untuk mempertemukan seniman dengan para profesional di bidangnya.
Acara yang juga dihadiri oleh sejumlah pejabat dan publik figur seperti Deddy Corbuzier ini, pada akhirnya, adalah langkah awal. Intinya adalah membangun kolaborasi. Kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, musisi, pelaku swasta, dan tentu saja, masyarakat. Dari sini, diharapkan peta jalan yang komprehensif dan aplikatif untuk musik Indonesia Timur bisa benar-benar terwujud. Jalan masih panjang, tapi setidaknya diskusi telah dimulai.
Artikel Terkait
KPK Tetapkan Kerugian Negara Rp 622 Miliar dalam Kasus Korupsi Kuota Haji
Akademisi Kritik Rancangan Perpres Pelibatan TNI dalam Penanggulangan Terorisme
Indonesia Kecam Serangan Israel di Lebanon Selatan, Serukan Penghentian Kekerasan
Aktivis HAM Andrie Yunus Disiram Air Keras, JMSI Sebut Serangan terhadap Demokrasi