Marsekal Madya TNI M Syafi'i, sang Kepala Basarnas, baru saja membeberkan kronologi jatuhnya pesawat Smart Air tipe Caravan itu. Insidennya terjadi di perairan pantai Nabire, Papua Tengah. Menurut penjelasannya, semuanya berawal dari sinyal darurat.
"Kira-kira jam 12 siang, sistem ELT atau Emergency Locator Transmitter dari pesawat aktif mengirim sinyal distress," ujar Syafi'i.
Dia menyampaikan hal ini di Senayan, Jakarta, Selasa lalu, usai mengikuti rapat dengan Komisi V DPR. Sinyal darurat itu, lanjutnya, langsung terpantau oleh sistem monitoring Basarnas. Dari situlah kemudian komando penyelamatan dikerahkan.
Penerbangan itu sebenarnya adalah misi rutin yang berangkat dari Nabire. Tapi di tengah jalan, pilot merasa ada yang tidak beres. Bukan main-main, sang pilot pun memutuskan untuk balik ke bandara asal.
Artikel Terkait
Saksi Pajak GoTo Diperiksa, Transaksi Saham Google Rp 1,4 Triliun Jadi Sorotan
Konsultan Jadi Ujung Tombak Dugaan Suap Pajak Rp75 Miliar
Polisi Bekasi Bongkar Jaringan Tramadol Ilegal, Diduga Picu Tawuran
Di Balik Angka Turun, Kesenjangan Pernikahan Dini di Indonesia Timur Masih Menganga