Karena itulah, dia mendesak agar penanganan dilakukan secara komprehensif. Dengan perencanaan yang matang dan terukur, pemerintah bisa punya peta yang jelas baik dari sisi waktu maupun anggaran yang dibutuhkan.
"Kalau hanya diperbaiki jembatannya saja, terus aluran sungainya bagaimana? Alur sungai ini harus diarahkan, Pak. Kalau alur air ini tidak diarahkan, dia akan merusak ke mana-mana tempat," jelas dia.
"Tentu penanganan ini harus secara komprehensif, terencana, dan tentunya juga kami dari Komisi V ini memastikan segalanya terukur. Kalau segalanya terukur, kita bisa ukur dari sisi waktu, kita bisa ukur dari sisi kebutuhan pembiayaan yang diperlukan," tambah Lasarus.
Di sisi lain, ada satu hal lagi yang dia tekankan: pemeliharaan. Pemerintah dinilainya tak boleh abai merawat infrastruktur yang sudah berdiri. Sebab, menangani bencana tanpa diimbangi perawatan rutin sama saja menyiapkan masalah baru. Infrastruktur yang telantar lama-lama bisa jadi sumber bencana sendiri.
"Karena kita bukan hanya "ngurus" bencana saja, Pak Menteri. Di sisi lain akan timbul bencana baru kalau posisi, kondisi infrastruktur kita yang ada ini tidak kita pertahankan," tutupnya.
Artikel Terkait
43 Kantong Jenazah Dievakuasi, Baru 27 Korban Longsor Pasir Kuning Teridentifikasi
Kunjungan Rahasia AS ke Ushuaia Picu Kecurigaan dan Debat Kedaulatan
BMKG Ungkap Upaya Hujan Buatan Gagal Cegah Longsor Cisarua
Atap Ambruk di Bogor, Satu Keluarga Mengungsi Usai Hujan Deras