Di ruang sidang Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat, Selasa (27/1/2026) lalu, suasana terasa cukup tegang. Jaksa menghadirkan seorang saksi kunci: Basuki Tjahaja Purnama, atau yang lebih akrab disapa Ahok. Mantan Komisaris Utama Pertamina ini dihadirkan untuk mengurai benang kusut kasus dugaan korupsi tata kelola minyak mentah.
Pertanyaan jaksa berpusat pada satu usulan yang pernah diajukan Ahok semasa menjabat. "Anda pernah mengusulkan sistem pengadaan baru yang lebih efisien," tanya jaksa, mencoba merunut detailnya. "Apa sebenarnya masalah dari sistem pengadaan yang lama? Apakah usulan Anda itu ditindaklanjuti?"
Ahok pun menjawab. Penjelasannya lugas, membongkar sebuah persoalan mendasar.
"Sistem lama itu bahaya," katanya. "Indonesia jadi tidak punya cadangan minyak lebih dari 30 hari. Kalau mau mencapai itu, butuh miliaran dolar."
Menurutnya, ada ambiguitas dalam penugasan. "Sebetulnya, dalam UU Migas, menjaga cadangan itu tugas pemerintah. Tapi karena pemegang saham Pertamina adalah pemerintah, BUMN ini lalu dibebani tugas yang seharusnya bukan tanggung jawab komersialnya. Pertamina diperlakukan seperti swasta, tapi disuruh 'nombok' rugi demi keamanan energi negara."
Suaranya terdengar sedikit frustrasi.
Lalu, apa solusi yang dia tawarkan? Ahok mengusulkan model supplier hire stock melalui e-katalog LKPP. Idenya sederhana: buatkan kanal khusus untuk Pertamina di sana.
"Saya ajak tim Pertamina ketemu Kepala LKPP sampai tiga kali. Saya juga undang mereka datang ke kami," ujarnya. "Prinsipnya, saya ingin LKPP punya satu halaman khusus untuk pengadaan Pertamina. Mirip seperti yang saya terapkan dulu di Jakarta."
Pengalaman masa lalunya sebagai Gubernur DKI jadi acuan. Sistem serupa pernah sukses menghemat anggaran secara signifikan.
"Jakarta kan provinsi pertama yang punya halaman khusus pengadaan sendiri. Hasilnya, penghematannya luar biasa," kenang Ahok.
Namun begitu, nada bicaranya kemudian berubah datar, menandakan sebuah kenyataan pahit.
"Tapi ya itu. Setelah saya lengser, semuanya diubah kembali."
Artikel Terkait
Evakuasi Korban Tabrakan Kereta di Bekasi Timur Terkendala, 6-7 Orang Masih Terjebak
Tabrakan Kereta Jarak Jauh dan KRL di Bekasi Timur, 5 Tewas dan Puluhan Luka
Tabrakan Kereta di Stasiun Bekasi Timur Tewaskan 7 Orang, 81 Luka-luka
Tabrakan Kereta di Bekasi Timur: 7 Tewas, 81 Luka, Evakuasi Berlangsung 8 Jam