Di ruang sidang Pengadilan Tipikor Jakarta, Selasa lalu, Basuki Tjahaja Purnama atau yang lebih dikenal sebagai Ahok memberikan kesaksian yang cukup mengejutkan. Mantan Komut Pertamina itu bicara blak-blakan soal dunia golf. Menurutnya, lapangan hijau itu justru jadi tempat negosiasi bisnis yang paling murah dan sehat. Ya, Anda tidak salah dengar. Golf.
Ahok hadir sebagai saksi dalam sidang kasus korupsi tata kelola minyak mentah. Sidang yang berlangsung pada 27 Januari 2026 itu mendengar keterangannya terkait sejumlah dugaan pelanggaran.
Di kursi terdakwa, duduk sembilan nama. Di antaranya ada Riva Siahaan, mantan Dirut PT Pertamina Patra Niaga, lalu Sani Dinar Saifuddin dan Maya Kusmaya dari jajaran Pertamina. Juga ada Edward Corne, Yoki Firnandi, dan Agus Purwono. Dari pihak swasta, ada Muhamad Kerry Adrianto Riza, Dimas Werhaspati, serta Gading Ramadhan Joedo.
Pertanyaan jaksa berawal dari fungsi pengawasan Dewan Komisaris. Mereka menanyakan apakah pengawasan itu mencakup juga perilaku personal para direksi. Ahok dengan tegas membenarkan.
"Oke baik, satu pertanyaan lagi dari saya ya, mungkin teman kawan kami bisa menambahkan. Dewan Komisaris itu juga mengawasi soal etika perilaku personal dari direksi maupun?" tanya jaksa.
"Betul," jawab Ahok singkat.
Pertanyaan kemudian mengerucut. Jaksa ingin tahu pandangan Ahok soal kebiasaan para direksi bertemu pihak lain sambil main golf. Nah, di sinilah ceritanya jadi menarik.
Ahok mengaku dulu sangat membenci olahraga itu. Bahkan, saat masih menjabat Gubernur DKI, dia melarang seluruh jajaran pemprov main golf. Alasannya sederhana: waktu kerja mereka terlalu berharga untuk dihabiskan di lapangan.
"Ini soal pribadi ya, saya dulu paling benci main golf, Pak. Saya melarang semua orang pemda, tidak boleh main golf karena kita kerja terlalu banyak," ujarnya di hadapan majelis hakim.
Namun begitu, dunia ternyata berputar berbeda. Saat masuk ke Pertamina, Ahok mendapat kenyataan pahit. Dunia perminyakan, terutama dari rekanan seperti Chevron dan Exxon, seolah punya budaya sendiri. Semuanya serba golf.
"Tapi, ketika saya masuk ke Pertamina, saya baru menyadari semua orang minyak dari Amerika, Chevron, Exxon, ngajak main golf terus. Saya kan malu, Pak, nggak bisa mukul, Pak. Saya terpaksa pergi sekolah golf supaya bisa menemani mereka," cerita Ahok dengan nada setengah tertawa.
Dari situlah persepsinya berubah total. Dia mulai melihat golf dari sudut pandang yang sama sekali berbeda. Bukan lagi sekadar hobi, melainkan sebuah arena strategis.
Menurut Ahok, bernegosiasi sambil menyusuri fairway jauh lebih efisien. Biayanya murah ketimbang harus ke klub malam, plus ada unsur kesehatan karena terkena sinar matahari dan jalan kaki. Dia bilang, menjamu orang untuk golf itu relatif tidak menguras kantong.
"Karena misalnya saya nego dengan Exxon, saya mau minta bagian saham, itu dia ada negosiasi di lapangan golf itu, jauh lebih murah daripada nightclub. Saya kira golf adalah tempat negosiasi paling sehat paling murah, jemur, jalan, murah dan bayarin anggota main itu sangat murah," paparnya panjang lebar.
Alhasil, demi menyesuaikan diri, Ahok pun belajar serius. Targetnya sederhana: agar saat diajak main oleh eksekutif Chevron atau Exxon, skornya tidak jeblok di angka 138. "Main 100 masih oke lah," ujarnya. "Nah, itu biasa, Pak."
Begitulah kesaksiannya. Sebuah potret bagaimana budaya bisnis kadang memaksa seseorang untuk belajar hal baru, bahkan yang dulu paling dibencinya.
Artikel Terkait
Polisi Jerman Bubarkan Hells Angels Leverkusen, Sita Aset Rp43 Miliar dalam Operasi Besar
Anggota DPR Dorong Penyediaan Air Bersih dan Fasilitas Olahraga di Lapas Perempuan Jayapura
Kereta Bathara Kresna Terpaksa Berhenti di Solo karena Mobil Land Cruiser Parkir Terlalu Dekat Rel
Taksi Listrik Mogok Korsleting di Perlintasan, Picu Tabrakan Beruntun Kereta Api di Bekasi Timur