Namun begitu, dunia ternyata berputar berbeda. Saat masuk ke Pertamina, Ahok mendapat kenyataan pahit. Dunia perminyakan, terutama dari rekanan seperti Chevron dan Exxon, seolah punya budaya sendiri. Semuanya serba golf.
Dari situlah persepsinya berubah total. Dia mulai melihat golf dari sudut pandang yang sama sekali berbeda. Bukan lagi sekadar hobi, melainkan sebuah arena strategis.
Menurut Ahok, bernegosiasi sambil menyusuri fairway jauh lebih efisien. Biayanya murah ketimbang harus ke klub malam, plus ada unsur kesehatan karena terkena sinar matahari dan jalan kaki. Dia bilang, menjamu orang untuk golf itu relatif tidak menguras kantong.
Alhasil, demi menyesuaikan diri, Ahok pun belajar serius. Targetnya sederhana: agar saat diajak main oleh eksekutif Chevron atau Exxon, skornya tidak jeblok di angka 138. "Main 100 masih oke lah," ujarnya. "Nah, itu biasa, Pak."
Begitulah kesaksiannya. Sebuah potret bagaimana budaya bisnis kadang memaksa seseorang untuk belajar hal baru, bahkan yang dulu paling dibencinya.
Artikel Terkait
Dua Eks Pentolan NasDem Sulsel Sambut Kaesang dengan Rompi PSI
Dapur Ekosistem di Pandeglang Siap Hidangkan Makanan Gratis untuk 6.000 Santri
29 Desa di Aceh dan Sumut Hilang Ditelan Banjir dan Longsor
JPU Soroti Pola Lingkaran Dalam Nadiem yang Diduga Rusak Sistem Pendidikan