Lalu, dalam sekejap, situasi berubah mencekam.
Seorang petugas lain mengarahkan pistol ke punggung Pretti. Empat kali tembakan dilepaskan, beruntun. Beberapa tembakan lagi kemudian terdengar, seiring dengan agen lain yang juga tampak menembak ke arah pria malang itu.
Setelah itu, baru suasana mereda. Semua agen mundur dari jasad Pretti yang tak bergerak. Beberapa saat kemudian, beberapa dari mereka tampak menawarkan bantuan medis, sementara yang lain menghalau kerumunan warga yang ingin mendekat.
Insiden ini terjadi kurang dari tiga minggu setelah petugas ICE menembak mati Renee Good (37) di dalam mobilnya. Wajar jika kematian Pretti langsung memicu protes dan kecaman baru dari pejabat setempat. Mereka dengan tegas membantah klaim cepat dari pemerintahan Trump yang menyatakan Pretti bermaksud melukai agen federal saat berpartisipasi dalam demonstrasi itu.
Narasi resmi dan kesaksian visual kini berbenturan. Yang satu bicara soal pistol dan pembelaan diri. Yang lain menunjukkan telepon dan upaya pertolongan. Di tengah kabut kontroversi ini, yang pasti satu nyawa telah melayang, dan sebuah kota kembali berduka.
Artikel Terkait
Warga dengan Gangguan Jiwa Terseret Arus Irigasi di Tengah Pembagian Sembako
22 Unit Damkar Dikerahkan Atasi Kobaran Api di Rumah Tebet
Prabowo Gelar Rapat Dadakan di Bogor Usai Tur Dunia
Tim Ahli KLH Turun ke Cisarua, Telusuri Dampak Urbanisasi Pasca-Longsor