Cengkareng Drain Kewalahan, Jakarta Barat Terendam Kiriman Air dari Hulu

- Sabtu, 24 Januari 2026 | 12:55 WIB
Cengkareng Drain Kewalahan, Jakarta Barat Terendam Kiriman Air dari Hulu

Jakarta Barat ternyata jadi wilayah yang paling babak belur diterjang banjir kali ini. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menyoroti parahnya dampak di kawasan itu dibanding wilayah lain di Ibu Kota. Menurutnya, pemicu utamanya adalah kiriman air dari daerah hulu.

Saat meninjau lokasi pengungsian di Rawa Buaya, Cengkareng, Sabtu lalu, Pramono menjelaskan lebih detail.

"Kenapa Jakarta Barat paling parah? Yang pertama karena memang kiriman dari hulunya. Kali ini kiriman datang dari Tangerang, Tangerang Selatan, dan sekitarnya," ujarnya.

Aliran deras itu bukan datang dari sembarang tempat. Air mengalir dari sejumlah sungai besar macam Sungai Angke, Pesanggrahan, sampai Kali Mookervart. Semuanya akhirnya bermuara ke satu titik: Cengkareng Drain. Saluran itulah yang kemudian kewalahan, dengan ketinggian air melonjak drastis.

"Di Cengkareng Drain kemarin sore ketinggian air sempat di angka 350, pagi tadi turun menjadi 315. Batas aman itu 310, jadi sekarang sedang kita kejar agar segera turun," jelas Pramono.

Untuk mempercepat proses surut, Pemprov DKI tak tinggal diam. Mereka menambah jumlah pompa air di Rawa Buaya. Awalnya cuma tiga unit, sekarang sudah ada tujuh pompa yang bekerja keras menguras genangan.

"Pompa sudah ditambah empat unit, jadi total ada tujuh pompa. Mudah-mudahan air bisa segera surut," harapnya.

Di sisi lain, warga yang terpaksa mengungsi pun tak sedikit. Di Masjid Jami' Baitul Rahman, Rawa Buaya saja, tercatat 45 kepala keluarga atau 177 jiwa harus meninggalkan rumah mereka. Kondisi mereka, kata Pramono, cukup baik dan kebutuhan pokoknya terjamin.

Bantuan terus mengalir. Pemprov DKI menyalurkan beras, minyak goreng, mi instan, hingga perlengkapan tidur seperti kasur lipat dan selimut. Tak ketinggalan, perlengkapan untuk anak-anak juga disiapkan. PMI DKI Jakarta pun ikut membantu dengan membagikan minyak penghangat tubuh, mengingat cuaca yang tak menentu dan kondisi pengungsian yang lembap.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar