Keputusan itu akhirnya resmi. Amerika Serikat, negara yang selama ini jadi salah satu penyandang dana terbesar, telah meninggalkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Konfirmasi datang dari Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS (HHS) pada Kamis lalu, mengakhiri spekulasi yang sudah berlangsung cukup lama. Ini sekaligus menuntaskan agenda dari era Presiden Donald Trump, yang kembali mengeluarkan perintah eksekutif di hari pertama masa jabatan keduanya.
Prosedurnya memang tak instan. Berdasarkan aturan, AS wajib memberi pemberitahuan setahun sebelumnya dan melunasi semua kewajiban finansialnya. Nah, pada Kamis itu, HHS menyatakan semua pendanaan pemerintah AS untuk WHO telah dihentikan total. Tak cuma uang, personel dan kontraktor AS yang bekerja di badan kesehatan PBB itu juga ditarik semua. Bahkan, partisipasi dalam berbagai komite dan kelompok kerja teknis WHO pun ikut berakhir.
Lalu, apa dampaknya bagi dunia? Menurut Teuku Rezasyah, dosen Hubungan Internasional Universitas Padjajaran, pengaruhnya pasti akan terasa.
"Amerika Serikat keluar dari WHO, memang berdampak pada sektor kesehatan di tingkat dunia. Terlebih lagi, AS memang menghasilkan banyak produk dan riset di bidang obat-obatan," ujarnya kepada wartawan, Sabtu (24/1/2026).
Namun begitu, Rezasyah punya pandangan menarik. Dia menilai Indonesia tak perlu larut dalam kekhawatiran. Justru sebaliknya.
"Indonesia tak perlu berkecil hati. Belajar dari pengalaman saat Covid, terbukti Indonesia mulai mampu membangun infrastruktur kesehatan, dengan basis kemandirian nasional dan perluasan jaringan internasional," jelasnya.
Baginya, momentum ini malah harus dimanfaatkan. Keluarnya AS dari panggung global kesehatan bisa jadi dorongan untuk memperkuat kolaborasi di jalur lain.
"Indonesia perlu menjadikan keluarnya AS ini sebagai momentum, guna saling memperkuat kerjasama kesehatan di tingkat ASEAN, GNB, dan Kerjasama Selatan-Selatan," tutur Rezasyah.
Dia meyakini Indonesia punya ketahanan yang cukup. Tapi, ada pekerjaan rumah yang menunggu.
"Justru saat inilah Presiden Prabowo perlu membuktikan kemampuannya melakukan efisiensi di banyak bidang. Hasil efisiensi tersebut sangat tepat jika ditujukan ke sektor kesehatan," imbuhnya.
Jadi, meski langkah AS ini menimbulkan gejolak, bukan berarti akhir dari segalanya. Bisa jadi ini awal dari sebuah tatanan baru, di mana negara-negara lain, termasuk Indonesia, ditantang untuk lebih mandiri dan lincah mencari sekutu. Tantangannya nyata, tapi peluangnya juga terbuka lebar.
Artikel Terkait
Prabowo Berkelakar soal Pingsan hingga Stres saat Groundbreaking Proyek Hilirisasi di Cilacap
Atletico Madrid vs Arsenal Imbang 1-1 di Leg Pertama Semifinal Liga Champions
KPK Buka Suara soal Video Viral Tahanan Baju Oranye di Bandara: Prosedur Pemindahan untuk Sidang
Sengketa Internal FSPMI Berujung ke PN Jakarta Timur, Mediasi Dinilai Terhambat karena Tergugat Tak Kooperatif