Bamsoet Soroti Pidato Prabowo di Davos: Sinyal Kredibilitas Indonesia di Mata Global

- Jumat, 23 Januari 2026 | 17:55 WIB
Bamsoet Soroti Pidato Prabowo di Davos: Sinyal Kredibilitas Indonesia di Mata Global

“Ini bukan kebijakan populis jangka pendek,” tegas Bamsoet.

“Ini strategi ekonomi sumber daya manusia. Anak sehat, pendidikan berkualitas, dan akses teknologi adalah fondasi daya saing bangsa.”

Soal penegakan hukum, Bamsoet mendukung sikap tegas pemerintah. Penertiban besar-besaran terhadap perkebunan dan tambang ilegal, termasuk pencabutan izin puluhan korporasi, menunjukkan keseriusan itu. Praktik ‘greedynomics’ itu, katanya, adalah ancaman nyata bagi negara hukum dan keadilan sosial.

Menurut sejumlah saksi, di akhir pidatonya, Prabowo kembali menegaskan politik luar negeri bebas aktif. Indonesia ingin bersahabat dengan semua, memilih jalan damai, dan berkomitmen pada pembangunan berkelanjutan. Inisiatif kelautan dan Ocean Impact Summit di Bali disebut sebagai bagian dari komitmen itu.

Namun begitu, Bamsoet tak menutup mata. Tantangan ke depan masih besar. Reformasi BUMN butuh konsistensi dan nyali untuk melawan resistensi internal. Program sosial berskala raksasa menuntut tata kelola anggaran yang akuntabel dan pengawasan ketat agar tidak melenceng. Penegakan hukum harus adil, tidak tebang pilih. Dan integrasi ekonomi global harus diimbangi dengan penguatan industri dalam negeri, agar kita tidak cuma jadi pasar.

“Harapannya, seluruh agenda besar yang disampaikan Presiden Prabowo di WEF Davos dapat benar-benar terimplementasi di dalam negeri,” pungkasnya.

Jika stabilitas, disiplin fiskal, reformasi kelembagaan, dan investasi SDM berjalan konsisten, peluang Indonesia untuk menjadi kekuatan ekonomi baru yang berdaulat dan berkeadilan, terbuka lebar.


Halaman:

Komentar