Suasana di Teheran masih tegang. Unjuk rasa besar-besaran yang mengguncang negara itu selama dua pekan, mulai akhir Desember lalu, memang sudah mereda. Tapi, di balik permukaan yang tenang, ancaman justru mengarah keluar. Komandan Garda Revolusi Iran (IRGC), Jenderal Mohammad Pakpour, mengeluarkan peringatan keras. Sasaran utamanya: Israel dan Amerika Serikat.
“Mereka harus menghindari kesalahan perhitungan apa pun,” tegas Pakpour, seperti dikutip televisi pemerintah Iran, Jumat (23/1/2026). Peringatannya bernada mengancam. “Belajarlah dari pengalaman sejarah. Dari perang 12 hari yang dipaksakan itu. Agar nasib yang lebih menyakitkan dan disesalkan tidak menimpa mereka.”
Pernyataannya itu jelas merujuk pada konflik singkat namun mematikan antara Iran dan Israel pada Juni tahun lalu. Saat itu, Washington secara terbuka mendukung dan bergabung dengan Tel Aviv. Sejak peristiwa itu, Presiden AS Donald Trump memang tak henti mengobarkan ancaman, membuka-buka opsi aksi militer baru terhadap Iran.
Namun begitu, Pakpour sepertinya ingin menunjukkan bahwa Iran tidak gentar. Bahkan, dalam kondisi dalam negeri yang baru saja dilanda gelombang protes yang menurut para aktivis ditindak hingga menewaskan ribuan orang kesiapan tempur justru ditingkatkan.
Artikel Terkait
Banjir Keempat di Pamarayan, Rakit Darurat Jadi Penyelamat Warga
Banjir Serang Rendam Lima Kampung, Sekolah Terpaksa Libur
Krista Interfood 2026 Tetap Digelar, Meski Kemitraan Lama Diusut ke Polisi
Menteri Tito Tinjau Desa yang Luluh Lantak: Tak Ada Satu Rumah pun yang Utuh