Tapi bertahan di rumah bukan berarti tenang. Kekhawatiran justru membayangi karena persediaan air bersih kian menipis dan gelapnya malam tanpa listrik. Keluar rumah untuk membeli kebutuhan pun nyaris mustahil, mengingat banjir yang sudah sedemikian tinggi.
Bagi yang mengungsi baik ke masjid di luar komplek maupun ke posko darurat bantuan logistik menjadi hal yang sangat mendesak. Harapan besar mereka sederhana: air cepat surut dan bantuan segera datang.
Namun di balik semua itu, ada satu pesan penting yang ingin disampaikan Arul dan warga lainnya. Mereka lelah dengan penanganan yang sekadar reaktif. Yang dibutuhkan adalah solusi permanen yang menyentuh akar masalah, bukan hanya tindakan darurat saat banjir datang.
Pernyataan itu seperti jeritan hati warga yang sudah terlalu sering berhadapan dengan genangan. Mereka menunggu komitmen nyata, sebuah penanganan signifikan agar tragedi tahunan ini benar-benar bisa diakhiri.
Artikel Terkait
Jakarta Tenggelam: 121 RT dan 16 Ruas Jalan Masih Terendam Banjir
Tiga Warga Terluka Akibat Pohon Tumbang Diterjang Hujan Deras di Senen
Hakim Bebaskan Mahasiswa Riau, Tiga Aktivis Lain Tetap Ditahan
Cipamingkis Meluap, Bekasi Siaga Banjir Kiriman